Jumat, 12 September 2014

Jelajah Andalas Sampai ke Pucuknya (Sabang) Bagian 3

5 Agustus 2014 D=8 (Sabang - Banda Aceh)
mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus mengakhiri liburan di Sabang ini & kembali kedaratan Sumatra, sebelumnya kami mengunjungi beberapa obyek wisata terlebih dahulu, seperti; pantai Gapang.Peta Jalur Nol Km-Iboih-Gapang-Balohan

kami sempat berbincang bincang dgn seorang anggota TNI AL asal Jawa Timur di food court yg lokasinya tdk jauh dari tempat Bang Kidal. Saat itu kami banyak dapat info ttg kondisi pulau Rondo, cuaca dll, Nyesal rasanya tidak jadi nyebrang. Saran dari beliau ternyata cuaca di Aceh biasanya membaik setelah bulan Agustus tetapi tetap unpredictable. Itu sebabnya TNI AL juga belum mengirim Bantuan logistik untuk marinir yg berjaga di P Rondo tersebut.

Cuaca buruk membuat kapal cepat tidak beroperasi, hanya kapal lambat, hal ini membuat antrian di dermaga Ferry cukup banyak, apalagi saat itu musim libur. Ferry kami akan brkt pukul 14.00 wib, tapi antrian panjang sudah terjadi jauh sebelumnya.
Langit seperti menangis menyaksikan kepergian saya dari P Weh ini, hujan dgn intensitas rendahpun turun (#lebay).



Pantai Gapang

Mendekati Pelabuhan

Selanat tinggal P Weh, semoga kita berjumpa kembali
Jam 16.00wib kami tiba kembali di Pel Ulhee Lee, Banda Aceh, kami sempat memfoto 1 dari 2 buah pesawat pertama RI pemberian rakyat Aceh buat Republik Indonesia
Seulawah sebagai bukti kesetiaan & kebaikan rakyat Aceh kepada Republik
Selesai foto2 Kami segera mencari rumah makan dan insiden memalukan terjadi di sini, konci motor saya masuk ke gorong2, sehingga menghabiskan waktu 1 jam dgn bantuan 10 org utk Mengambilnya kembali.
Kami menginap di Hotel Palembang, Banda Aceh yg terletak di JL. Khairil Anwar, No. 49 seharga RP 70.000 / hari. Malamnya saya mencoba kluyuran sendirian di Banda Aceh, siall..terkena hujan yg turun sangat deras, ditengah hujan saya menemukan Sate & sop Kambing milik orang Jawa (asal Surabaya) yg mebuat touring 2014 ini seperti dejavu dgn touring 2013, dimana saat itu kami makan sate + Sop di Ende, Flores dgn pemilik warung yg juga asal Jawa.

6 Agustus 2014 D=9 (Banda Aceh - Meulaboh - Tapaktuan)
Hari ini perjalanan solo Touring saya dari Aceh menuju Jakarta via lintas barat dimulai, sangat menyenangkan, tapi saat harus membayar penginapan (tanpa kawan sharing cost) menjadi menyedihkan 

jam 07.00 wib Reno meluncur menuju Medan ditengah hujan yg masih turun dari semalam, sedangkan saya harus menunggu toko buka terlebih dahulu utk memperbaiki memory card kamera sekaligus membeli memory baru (memory saya sudah penuh, tdk bisa digunakan lagi ) saya berencana utk bertemu kembali dgn Reno di Sipiso Piso, Sumut. Selain itu saya juga akan melewati jalur yg berbeda dgn Reno, saya akan memutar via lintas barat (lebih jauh tapi penuh tikungan & pemandangan yg lebih dahsyat), sedangkan Reno kembali via Lintas timur, yaitu jalur yg sama dgn saat kita berangkat. Sampai jam 11.00 saya tidak mendapatkan tempat yg berhasil memperbaiki memory card tsb (bahkan kelupaan memberi memory card pulak), akhirnya saya terpaksa melanjutkan perjalanan lewat jalur Lintas barat ini ternyata berliku, lebih jauh sekitar 200km dan berat pada awalnya melintasi pegunungan, tapi kemudian mulus sampai Meulaboh-Tapaktuan-Sidikalang, beberapa bagian bahkan bisa memacu motor sampai top speed. Hujan deras turun tanpa henti disertai banjir yg kemudian terpaksa saya hadapi dibeberapa daerah dataran tinggi pulak (terutama saat sudah masuk Sumut) dan demi mengejar Reno yg brkt 4 jam lebih awal via jalur yg lebih pendek serta cepat pulak, maka: saya terpaksa jalan siang - malam nonstop (hanya berhenti utk makan & isi Bensin). Saya dapat Info kalau Reno telah tiba di Medan sekitar jam 22.00 wib dan akan menginap dahulu sebelum lanjut ke Sipiso piso  Peta jalur: Aceh - Sumut (via Barat)


7 Agustus 2014 D=10 (Tapak Tuan-Sidikalang-Brastagi-Sipiso piso-Merek)

Tiba di Sidikalang, saya melihat banyak sekali pohon duren, dengan bau harum yg sangat menggoda, tapi tidak terlihat yg jualan, mungkin karena masih terlalu pagi.


selepas Sidikalang, sebenarnya saya sudah dekat ke tujuan saya, yaitu Sipiso-piso, Tongging, tapi sebelumnya saya ingin menuntaskan cita2 saya sejak dahulu, yaitu: "Ingin ngopi bareng Andini (motor saya) di Brastagi. Akhirnya jam 10.00 wib setelah riding selama 23 jam siang malam tanpa tidur dari Banda Aceh, melewati daerah yg dinginnya menusuk tulang dimalam hari ditengah hujan deras berbonus banjir; saya tiba di Brastagi", mampir sebentar ke sebuah toko utk membeli memory card kamera agar kamera kembali bisa digunakan, kemudian saya terus bergerak mencari warung yg posisinya tertinggi ke arah Sibolangit (sesuai rekomendasi teman saya). Ohh iya di dataran tinggi Sumut ini para pengemudi mobilnya sangat baik hati, tanpa meminta dengan dim atau klakson, saat mereka menengok spion dan melihat saya menempel dibelakang, mereka langsung menepi utk memberikan jalan kepada saya mendahului mereka..warga lokal juga sangat2 ramah..suasananya benar2 mengingatkan saya akan dataran tinggi di Bali. #mauliate Godang..


Di Sebuah rumah makan dekat perbatasan Brastagi dan Sibolangit, dimana merupakan tempat tertinggi, saya berhenti untuk makan, mandi & bersantai, cukup lama saya beristirahat disini dengan hanya memesan 2 porsi nasi goreng, kopi susu dan air mineral. Cukup murah juga harganya (saya lupa pastinya, tapi kisaran 30 ribuan).
Pamer kaos Bikepacker, Brastagi

View dari sebuah rumah makan di Brastagi
Setelah merasa cukup istirahat saya langsung menuju Sipiso-piso, tapi tdk lewat kota Brastagi lagi, kali ini saat tiba di tugu jeruk, saya belok ke kiri dan akan bertemu dgn Kec Tiga Panah, belok kiri dan dari sini lanjut terus sampai Merek. Dari Kota merek ambil yg terus dan nanti akan ketemu plang Sipiso-piso kekanan (lihat peta). Beberapa kilometer sebelum sipiso piso, tiba2 saya melihat plang ini:
Plang puncak penatapan sipiso-piso
Tidak ada satu orangpun utk bertanya, sampai akhirnya rasa penasaran saya membuat saya memasuki jalur itu yg ternyata off road & makadam, ditengah tengah jalan terlihat bekas2 camping di sepanjang jalur ini, seperti beekas2 api Unggun, bekas bungkus mie instan dll. Saya terus naik keatas kira2 4km sampai jalan makin kecil makin kecil dan ditumbuhi alang2 yg sangat tinggi, pepohonan yg rapat tanah yg tidak stabil dan batu2an sebesar kepala gajah. Akhirnya motor tdk mungkin terus lg, karena buntu. saya ingin tinggalkan motor utk lanjut trekking ke atas bukit, tapi masalahnya tdk ada satupun manusia utk diminta menjaga motor saya, ditambah pohon2an tinggi & alang2 tinggi menghalangi pandangan saya utk mengawasi motor kalau naik keatas, akhirnya saya memutuskan memutar balik, ternyata..oh ternyata... Susah kali memutar balikkan motor di tempat yg kecil berbatu & penuh alang2 setinggi 2 meteran ini, dengan mengeluarkan sisa2 tenaga sehabis bergadang akhirnya saya bisa turun kembali kebawah, sampai kira2 1 km kemudian ada belokan kekiri, langsung saya masuki. Jalan ini lumayan besar dan akhirnya tiba disuatu tempat yg membuat saya speechless saking indahnya, sebenarnya ada jalan lg utk trekking keatas bukit, tapi tanahnya yg kurang stabil, membuat saya malas utk mengambil resiko trekking yg ternyata ini adalah jalur di sisi sebrang dari jalur yg tadi kearah bukit.








Setelah puas saya kembali turun, saat sudah dibawah saya memeriksa bracket Box abal2 saya, yg sudah menjadi kekhawatiran saya sejak berangkat dari JKT, dan ternyata benar dugaan saya..bracket box retak  
Sejak dari JKT saya selalu berhasil menghindari Lobang dijalan dan selalu pelan2 saat melewati jalan rusak atau bergelombang, tapi apa daya keingin tahuan yg berujung offroad dijalan super makadam,  membuat bracket box saya akhirnya nyerah juga. Untungnya saya membawa daypack, segera saya pindahkan barang2 dari box (agar tdk berat), kemudian menarunya ditas dan mengikat di bangku belakang motor saya. Jelas hal tsb menjadi merepotkan, karena box saya berisi barang2 keperluan motor, seperti: konci2, part cadangan, jas hujan, kanebo, cairan pembersih kaca helm, chain lub dll yg harusnya bisa dengan mudah / cepat saya keluarkan sewaktu waktu, Sedangkan pakaian dan barang2 keperluan saya ditempatkan di 2 buah sidebag.(belakangan saya ketahui, penyebab lain patahnya bracket box, ternyata setelah saya timbang total barang2 di box, beratnya mencapai hampir 5 kg, sedangkan yg di 2 sidebag tdk mencapai 3kg). 

Perjalanan saya lanjutkan sampai mendekati gerbang air terjun sipiso piso, kembali berhenti karena ada view yg menarik:


Di tempat ini saya berkenalan dengan beberapa orang wisatawan asal Medan yg ternyata justru sama sekali tidak tahu ttg puncak penatapan Sipiso piso.
Melanjutkan perjalanan & tiba di Parkiran sipiso piso, saya menitipkan motor & barang2 disebuah warung yg dijaga oleh seorang ibu2 istri dari kepala parkiran (karyawan DisHub Tanah Karo) yg usianya sudah 71 tahun tapi masih terlihat gaul & gagah. Cuaca cukup baik saat itu, sinar matahari dengan semangatnya menyinari dataran tinggi yg dingin tsb, hal ini saya gunakan utk menjemur jaket, sepatu, kaos kaki, jas hujan & pakaian saya yg basah kehujanan sejak dari Aceh. Dari seorang ank muda penjaga parkiran, akhirnya saya mendapatkan sebuah barang kecil yg sebenarnya wajib dibawa saat trip / touring; "Jepitan pakaian" (biar tdk terbang saat dijemur) hehe.

Air terjun Sipiso Piso ini terletak di Desa Tongging kec Merek, kab Tanah Karo, memiliki ketinggian 135 meter (sekali lagi: bukan 300km ya... kalau 300km artinya puncak air terjun sudah sampai pada Lapisan ke 2 Ionosfer , tepatnya lapisan udara Appleton ), merupakan air terjun no 4 tertinggi di Indonesia. Tidak usah takut mengunjunginya, sekalipun bakal ngos ngosan karena tangganya banyak & terjal, tapi medannya sudah tdk se extrem sebelumnya, karena sudah dibuatkan tangga2 tsb, tapi saya tetap menggunakan jalur lama yg lebih pintas saat naik. Kawasan sipiso piso ini memiliki suhu & ketinggian yg kira2 sedikit lebih tinggi & dingin dari dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah. Luar biasa tempat ini, selanjutnya biarlah gambar yg berbicara:







Setelah sangat puas dibawah dan mendapatkan banyak kawan baru, saya kembali keatas ke warung Tarigan, disini saya bertemu kembali dgn Reno yg baru saja tiba. Sambil menunggu Reno yg sedang turun ke air terjun, saya banyak berbincang bincang dengan pasangan Tarigan tsb yg sangat sangat ramah, bahkan memaksa saya utk menginap gratis di warungnya yg mana memang sudah disiapkan utk menginap rombongan, bahkan dilengkapi selimut yg dibawa mereka dari German saat mengunjungi putri mereka yg menikah dgn org German.
Keanehan yg berulang dalam trip kali ini terjadi: saat mereka mengeluh ttg hujan yg 3 bulan tidak kunjung tiba (sampai tomat & kentang mati), saya lgs mengangkat tangan spt Dewa Indra & mengucapkan sebuah mantra (ehh bohong deh ) Tiba2 hujan turun dengan derasnya (yg ini benar ) hahaha.

Menjelang Magrib Reno & saya meninggalkan tempat ini, ternyata Reno ingin mencicil perjalanan pulang ke Jakarta dengan lgs mengarah ke Tebing dan akan kembali melewati Lintas timur sebagai jalur terpendek & tercepat, berhubung waktu cutinya sudah hampir habis. Disini kami berpisah, saya akan melanjutkan explore di tengah & barat. Sebelum berpisah saya mengingatkan Reno agar jalan saat terang saja & break begitu gelap tiba.

Setelah berpisah dgn Reno saya memutuskan utk menginap di Merek yg dingin & nyaman ini, penginapan yg saya tuju terletak di jalur utama Merek - Sidikalang. Penginapan milik seorang Karo & memiliki 1 karyawan berdarah batak Toba yg gaul plus menyenangkan ini cukup hangat & nyaman seharga 70rb.
selesai saya mandi Hujan deras kembali turun membuat suhu udara menjadi benar2 dingin, tiba2 datang seorang biker dgn knalpot racingnya yg langsung merapat ke penginapan...ternyata itu adalah lady biker "boru batak" yg baru saja menengok keluarganya di P Samosir dan hendak menuju Medan, ternyata dia juga saat itu baru pertama kalinya keluar P Samosir lewat darat (tapi terpaksa bermalam dahulu di merek, karena hujan deras & sudah gelap)    . Satu hal yg membuat saya selalu tertarik & senang memiliki pasangan Borbat sejak dahulu; selain rata2 cantik & memiliki mata yg indah, boru batak memiliki mental & kekuatan hati yg sangat tangguh 

Saat hujan sempat reda, saya mengajak BorBat tsb utk mencari makan dan diluar dugaan; kami menemukan mobil Pickup yg membawa Duren sidikalang hendak ke Medan sedang makan juga, tanpa basa basi langsung kami tawar 8 buah duren berukuran besar dan kami bawa ke penginapan. Di Penginapan Kami mengajak karyawan & pemilik penginapan utk pesta duren dan bir diiringi lagu "Didia Rokkaphi" .yg kami nyanyikan dengan lantang tapi fals  .
Permainan kartu sempat kami lakukan ditengah hujan & dinginnya udara, tapi karena selalu kalah dr 3 peserta lainnya  (Tapi saya tidak menuduh dicurangi & protes ke MK spt anak kecil loh ), akhirnya saya memutuskan utk tidur.

Bersambung ke bagian 4

Langsung lompat ke bagian 5

Kembali ke bagian 2
















Jelajah Andalas Sampai ke Pucuknya (Sabang) Bagian 2

01 Agustus 2014 D=4 (Duri - Medan)
Tidak bisa tidur dengan nyenyak sekitar Jam 05.00 kami melanjutkan perjalanan, belakangan kami dapat info kalau Onez mencari kami & tiba di SPBU ini jam 08.00 wib (tp kami sudah jalan). Di Sumatra jam 05.00 ini masih sangat gelap, saya mengambil alih tugas RC didepan, tetapi cara ini tidak efektif; berkali kali saya kehilangan Reno di spion saya, dia memang night visionnya agak terganggu, sehingga saya harus menepi berkali kali utk menunggu, akhirnya saya putuskan utk berjalan disamping kanan Reno dgn menggunakan lampu tembak utk membantunya, saat muncul kendaraan dari depan, saya mematikan lampu tembak dan masuk di belakang Reno apabila selah utk 2 mtr bersisian mengganggu pengemudi dari arah berlawanan.

Disini kemudian muncul sedikit masalah, motor Reno maksimal hanya bisa sampai RPM 7000 maksimal, belakangan di sebuah bengkel ternyata, didapati penyebabnya adalah salah satu businya kendor.

Sebuah pengeboran minyak yg posisinya di barat pertigaan ke Dumai"
Memasuki perbatasan Riau dengan Sumut, saya yg baru saja berhenti utk buang air kecil dan sedang mengejar Reno kembali, tiba2 melihat sebuah jaket yg sangat saya kenal, jaket komunitas motor Dusbic, sejenak saya lupa sedang touring di sumatra dan berasa sedang di PD Kopi jakarta timur, saya mencari cari nomornya, apakah itu 003 (adeek), 005 atau 006..begitu saya sadar itu adalah "Onez" yg anehnya dgn motor yg bermasalah kehilangan power serta sempat kebengkel dahulu di palembang (saat saya tinggalkan), ternyata malah bisa berada didepan kami, apalagi kami start jam 05.00 dari Duri dan dia baru jam 08.00..spontan saya tepok punggungnya dengan keras sambil menyalipnya..hahaha..dia yg sedang mengamati Reno yg baru saja menyalipnya (tanpa sadar siapa yg disalip) KAGET setengah mati... #sorry haha. Sempat mengobrol sebentar akhirnya saya bilang "gw kejar Reno dahulu, nanti kami berhenti didepan". Setelah Reno terkejar, kami menunggu Onez dan merencanakan utk berhenti begitu bertemu rumah makan.

Kami makan di labuan Batu, Sumut, dan saat kami belum selesai makan, Onez lgs pamit untuk jalan duluan, dgn perhitungan motornya hanya bisa maks 65KPJ, kami akan cepat menyusulnya kembali. Disinilah awal kami kehilangan jejak Onez, kami tdk pernah bertemu kembali sampai kembali ke jakarta, berkali2 dihubungi tidak diangkat, belakangan kami tahu kalau ternyata HP nya bermasalah dan motornya akhirnya kandas sebelum diperbaiki oleh komunitas CB di Sumut, Dengan susah payah dia tetap memaksakan lanjut ke nol km dan Onez tiba di Sabang justru setelah kami kembali ke Banda Aceh dan akhirnya saat dia kembali ke Jakarta, motornya ditinggal di Jambi (sampai saya selesai menulis blog ini, motornya belum juga diambil), sedangkan dia pulang ke JKT dgn pesawat terbang. 4 jempol utk tekad dan semangatnya, tapi saya tetap akan menjitaknya begitu bertemu lgs dengan orangnya (kemaren saat bertemu lupa mau jitak) hehe. 


Terus terang kami sempat panik, mencari cari mahluk tsb, bahkan kami sempat broadcast ke Komunitas2 motor di Sumatra dan sempat hampir meminta bantuan anggota RAPI utk mencari keberadaannya, karena tidak ada berita plat B yg kecelakaan, kami sempat berasumsi klo dia kena begal hehe. Sebelum akhirnya kami dapat info kalau dia akhirnya kena "portal" dan dikondisikan oleh komunitas CB di Medan. Bahkan menurut Onez dia sempat kaget begitu bertemu anggota Power di Banda Aceh yg langsung memeluknya, seolah olah bersukur melihatnya masih hidup. hehe. sepertinya Power Aceh sudah dapat Info dari Joshua yg juga anggota power Tanggerang yg memang yg memang sudah menyebarkan berita ttg "hilangnya Onez dari Radar".
FYI: istilah portal & mengkondisikan di kalangan Bikers artinya: Meminta berhenti bikers dari daerah lain, menjamu, memberikan tempat istirahat, memberikan bantuan (seperti bantuan memperbaiki motor dll), mengawal setidaknya sampai keluar dari Kota yg memportal (sampai jalur utama luar kota) dan memberikan petunjuk2 / informasi jalur kepada yg di portal. 
#Untuk masalah brotherhood, kelompok Bikers di Sumatra ini (daerah lain juga) terkenal sangat luar biasa hebatnya, hal ini sering membuat saya tidak enak hati, karena belum tentu bisa membalas kebaikan mereka, itulah sebabnya mengapa dalam touring2 saya sering  menyebutnya edisi siluman (tidak mau terlihat agar tidak menyusahkan tuan rumah).

Kembali ke cerita perjalanan saya: Perjalanan kami dilanjutkan menuju Medan, Udara panas dan kepadatan lalulintas yg semakin sore semakin ramai, membuat kami cepat lelah dan sering break. Banyaknya Bentor (becak motor) & truk yg berjalan sangat lambat semakin memperparah kepadatan / kemacetan.
Akhirnya kami tiba di Medan sekitar jam 20.00 wib dan lgs menuju hotel medan residence yg sangat terkenal dikalangan backpacker lokal & mancanegara , seharga 75rb & 95rb /hari (kami memilih yg 95rb), sebenarnya ada hotel backpacker lain disampingnya yg lebih murah (50rb), tapi tempat tidurnya tingkat, jika sedang penuh kami terpaksa sharing room dgn org yg belum kami kenal. Peta Jalur Duri - Medan 
.
Malamnya kami sempat berjalan jalan di Kota medan dan saya sempat berkenalan dgn seorang solo lady backpacker asal Slovakia bernama shasa dengan wajah mirip bintang Czech Porn , dia awalnya ingin explore danau Toba, tapi lgs tertarik ikut saya saat saya cerita akan explore Sabang dan kemudian baru Toba, tapi masalahnya tas carriernya yg sebesar karung beras 100kg membuat saya terpaksa menolaknya dgn halus utk memboncengnya.


2 Agustus 2014 D=5 (Medan - Banda Aceh)

Jam 09.00wib kami bergerak menuju Aceh dari penginapan kami yg posisinya disamping Masjid raya & Istana Maimun. Peta jalur Medan - Banda Aceh
Istana maimun, Medan
Saat keluar dari Kota Medan menuju Binjai, saya melihat trip Ordometer saya sudah 2.063 km (itu termasuk muter2 di Palembang, Jambi, Medan, dan adegan tersasar di Pekanbaru), artinya saya harus segera ganti Oli, saat ganti oli ini kami dapat info, kalau hendak ke Aceh, tdk perlu masuk Binjai, lgs belok kanan di Bypass saja.
Secara umum kondisi jalur Medan - Aceh ini sangat mulus, apalagi di Prov Aceh nya..tapi lalulintas sangat padat saat itu.

Menjelang masuk Pangkalan Brandan, saya meng overtake Reno dan membuka jarak sejauh mungkin, karena saya hendak mampir ke ATM & Indomart, ternyata ATM di Pangkalan Brandan tidak ada uangnya, saya lanjut ke Kota berikutnya dan mendapat sms klo Reno juga sedang break. Alhamdulilah, setelah keluar masuk ATM di 4 kota kecamatan yg saya lewati, akhirnya ada juga ATM BRI yg ada isinya, perut sudah sangat lapar dan posisi saya saat itu sudah di Langsa, Aceh. Dengan memarkir mtr dipinggir jalan (agar Reno bisa melihat mtr saya), saya menghabiskan 2 porsi mie aceh + 1 porsi nasi + ayam bakar. Saya sempat tlp Dedi (barengan touring ke Flores th 2013 yg saat ini tdk ikut), karena Langsa ini adalah kampung dari Ayahnya hehe, sedangkan Dedi saat itu sedang Berada di Gombong, Jawa Tengah. yg merupakan kampung Ibunya.


Ternyata Reno Baru di Kuala Simpang (dekat perbatasan Sumut - Aceh), kami membuat janji utk bertemu lgs di Lhokseumawe.

Sekitar Jam 15.00 saya sudah tiba di lhokseumawe dan selama hampir 2 jam menunggu Reno; saya mencicipi 2 buah duren dan kopi Aceh yg kemudian membuat saya tdk bisa tidur malamnya di Banda Aceh  . Luar biasa rasa duren Rimbo di Sumatra ini, benar2 membuat ketagihan..saya sempat berniat membeli 2 buah lg, tapi kekhawatiran akan tensi saya naik, membuat saya mengurungkan niat tsb. Benar saja sontak kepala saya pusing, saya lgs mencari ketimun utk memakannya, alhamdulilah setelah menghabiskan 2 buah ketimun, kondisi saya normal kembali. 

Setelah Reno tiba, perjalanan kembali kami lanjutkan sampai Bireun dan kembali berhenti seputaran magrib utk makan, disini untuk ke 2 kalinya saya menyruput kopi Aceh dan utk ke 2 kalinya masalah kembali muncul; perut saya kumat. saya meminta Reno utk jalan terlebih dahulu dan setelah merapat di Toilet sebuah SPBU saya akan kembali mengejarnya.


Setelah saya mengejar Reno, saya berjalan didepannya dengan sangat santai, agar reno bisa mengikuti saya, tapi setelah bertemu dengan sebuah motor touring plat BL, saya membiarkan dia jalan didepan, sementara saya berjalan disamping kanan Reno utk memberikan bantuan lampu tembak.

Mendekati Kota Banda Aceh, jalur menjadi mengasyikkan dgn tikungan2 yg cukup seru, tapi angin berhembus sangat keras menerbangkan banyak benda2 ketengah jalan. Sekitar jam 23.00 wib, kami tiba di masjid Bayturrahman, Banda Aceh..
Masjid ini benar2 nyaman suasananya, memberikan kesejukan, kenyamanan, keteduhan dan kedamaian, Seperti punya aura positif yg sangat luar biasa, pantas saja masjid ini tdk hancur saat tsunami th 2004 dan konon setiap orang yg sudah menyentuh hal masjid saat itu, dipastikan akan selamat dari Tsunami, sekalipun bangunan disekitarnya luluh lantah.
Maskid Bayturrahman

Maskid Bayturrahman

Maskid Bayturrahman

Maskid Bayturrahman
3 Agustus 2014 D=6 (Banda Aceh - Sabang)
Sekalipun suasana masjid Bayturrahman ini begitu sejuk untuk istirahat, tapi saya mencemaskan motor yg diparkir di luar, sehingga kami memutuskan pindah utk tidur di Indomart tak jauh dari Masjid, begitu keluar dari pagar masjid; suasana berubah 180°, aura premanisme sangat terasa di lingkungan parkir, salah seorang penjaganya berasal dari Semarang, Jawa tengah memberi jaminan keamanan buat motor2 kami, tapi kami tetap memilih pindah tidur.

Di Indomart ini saya sempat tertidur dan sekitar jam 03.30 wib dibangunkan oleh seseorang yg bertanya: "apakah kami dari Club Motor Power (Pulsar Owner) yg akan Jambore di banda Aceh tgl 8 agustus?"..kami jawab: "bukan", Ternyata orang tersebut tak lain adalah: Bang Nazar Debus, seorang sesepuh biker di Aceh, mantan Aktifis (rekan dari Ratna Sarumpaet), Seniman (tamatan ISI, Yogyakarta) yg juga sering mentas diluar negeri, dan juga anggota RAPI (lupa..beliau juga PNS loh )..kami bercerita banyak dan kemudian diajak memutari Banda Aceh, sebelum diantar ke Pelabuhan Ulhee Lee. Bang Nazar ini adalah seseorang yg sangat seru, berwawasan luas & menyenangkan. *kalau ada pementasan seni di JKT, jangan lupa tlp kami bang, pasti akan kami jamu balik.


Di Pelabuhan ini kami dijamu oleh bang Nazar, saking asiknya ngobrol sampai ketinggalan Ferry yg pertama  , kemudian Bang Nazar menitipkan kami kepada kepala pelabuhan, sebagai anak2nya hehe  . Kami menaikki Ferry yg ke 2 jam 11.00 wib (lupa pastinya) dengan tiket motor + penumpang kelas bisnis = 75rb/org, kalau kelas ekonomi = 55rb./org + mtr.

*belakangan saya ketahui dari seorang biker yg juga memegang HT di Iboih, ternyata selama kami di sabang, Pantai Iboih, P Rubiah dll, segala gerak gerik kami selalu dipantau oleh Abang kita ini hehehe, biker tsb tahu dimana kami menginap, aktifitas kami dan kalau kami extend 1 hari lagi tinggal di Sabang (karena betah).


Hanya 2 jam waktu pelayaran dari Pel Ulhee lee, Banda Aceh ke Balohan, Sabang. begitu merapat, kami lgs menuju nol km via jalur yg melewati danau aneuk Laut, sayangnya kami kelupaan mengambil foto disini saking indahnya pemandangan di Sabang ini. 
Gw dan Andini akhirnya ngaspal di Sabang

Sabang

Andini numpang mejeng

Sabang

View dari Sebuah warung di Sabang

Sabang (santai banget)

promosi Jersey bikepacker

Setelah makan di sebuah warung dgn pemandangan yg indah, kami lanjut menuju nol km, dan kali ini saya memegang kamera dgn tangan kiri sambil mengemudi motor, hasilnya:
mulusnya Aspal di Sabang


mulusnya Aspal di Sabang

mulusnya Aspal di Sabang
Akhirnya kami tiba di titik Kilometer Nol Indonesia. Saya jadi teringat ucapan seorang senior saya di Dunia petouringan;"buat seorang biker; ke kilometer nol itu ibarat naik haji, sedangkan umrohnya ke pontianak, sedangkan kalau sudah tembus dari Sabang sampai Kelimutu, Flores itu ibaratnya sudah menempuh pendidikan dasar selama 12 tahun (tamat SMA)" hahaha..tapi saya tdk akan berhenti sampai SMA saja, pelan2 saya akan menamatkan S1, S2 dan S3 
Andini Di KM nol Indonesia
Setelah puas di titik nol kilometer, kami kembali ke timur, ke Pantai Iboih, pantai ini juga sekaligus tempat penyebrangan ke P Rubiah & P Rondo (titik sejati nol km Indonesia yg berbatasan lgs dgn kep Nikobar, India). Kami mendapat CP orang paling terpercaya utk membawa kami dgn speed boat ke P Rondo dan sempat bernegosiasi dgn harga 2,5 Jt PP utk maksimal 5 org penumpang, tapi cuaca buruk membatalkan niat kami. Belakangan kami juga tahu dari seorang anggota AL, bahwa kapal yg mengirim logistik utk Marinir ke P Rondo juga gagal berangkat karena kendala cuaca.

Di Pantai Iboih ini kami menyewa sebuah cottage seharga 250rb/hari yg sangat bagus di lantai 2 komplit dgn balkon nya dan view menghadap ke Pantai. Saya berniat nyemplung di Pantai ini sore itu, tapi cuaca buruk menghalangi saya. Akhirnya saya mencuci pakaian & menjemurnya...ternyata itu sebuah kesalahan; angin sangat sangat kencang yg terjadi sejak, malam hari, bahkan sampai kami kembali esok lusanya, membuat kami harus siaga menjaga jemuran agar tidak terbang, tetapi tetap saja sebuah kaos kaki & sebuah celana terbang terbawa angin 

Pemandangan dari balkon lt 2 penginapan kami di Pantai Iboih
View Pantai Iboih dimalam hari dari dermaga
Sejujurnya saya kagum dgn manajemen pengelolaan pariwisata di Pantai Iboih & P Rubiah ini, suasananya mirip dengan di Gili Trawangan tapi dengan harga2 yg relatif murah dan sesuai dengan namanya, Sabang=santai banget, suasananya memang membuat saya hanya ingin bersantai dan bermalas malasan saja. 

5 Agustus 2014 D=7 (sabang)
Hari ini saya bangun dengan harapan cuaca cerah, karena inilah puncak dan saat yg paling saya tunggu dari Touring Lebaran 2014 ini; "snorkeling time"..SIALLLLLLLL..cuaca buruk dan angin masih sangat dahsyat pagi ini. Segera saya mencari info penyebrangan P Rubiah, ternyata sewa alat2 snorkeling (Finn, Google, snorkel & vest) + antar jemput perahu PP = Rp 70.000. Segera saya kembali ke penginapan dan memberi tahu Reno agar bersiap siap.
Pantai Iboih di pagi Hari
naik perahu menuju P Rubiah


Mulai mendekati P Rubiah

Dermaga P Rubiah sudah terlihat

Terlihat kapal berbendera Thailand

Dermaga P rubiah, underwaternya terlihat jelas.
Sesampainya di P Rubiah kami menitip barang2 di warung yg pertama dari arah dermaga, ternyata disini juga ada penyewaan Kam Underwater seharga RP 120.000 (ma'ngap CP nya ilang).
ga perlu banyak cerita ini hasilnya :




















Menjelang magrib kami kembali ke Pantai Iboih, itu juga kami sempat lupa waktu dan baru sadar setelah dijemput tukang perahu kami yg baik hati (sempat meminjamkan uang, sebelum kami kembalikan saat merapat di Pantai Iboih yg ada ATM).


Kami memutuskan extend 1 hari lg di Pulau yg indah ini, malamnya kembali kami bermain main di dermaga melihat orang2 mancing. Ohh hampir lupa kejadian yg seperti dejavu dengan touring lebaran 2013 juga terjadi; seorang wanita muda asal medan salah masuk kekamar kami yg tidak dikunci, bedanya, kali ini dia masih mengenakan pakaian komplit (tidak seperti waktu di Sape, Sumbawa) hehehe. Dia terlihat sangat malu, apalagi setiap bertemu kemudian, saya selalu menyapanya dengan "halo tetangga".

Bersambung ke bagian 3

Langsung lompat ke bagian 4


Langsung lompat ke bagian 5

Kembali ke bagian 1