Jumat, 15 Juli 2016

Sisi Lain Pulau Dewata bagian II (Upacara Ngaben)

Keluarga saya yang akan di Aben hari ini adalah kakak perempuan tertua ayah saya (Iwa saya) dengan usia 20 tahun lebih tua dari ayah saya sebagai anak bungsu (nomer 11).


Beliau tidak mempunyai anak tapi hampir semua anak & cucu dari kakak2 ayah saya di Bali, dialah yang membesarkan, meyekolahkan serta membiayainya. Bahkan saat saya masih dikandungan ibu saya, sampai saya berusia 2 tahun, dia  pulalah yang mengurus saya di Jakarta (dia rela meninggalkan usahanya di Bali dan pergi ke Jakarta) hanya untuk membantu Ibu saya mengurus saya yang sedang ditinggal  ayah saya untuk melanjutkan pendidikan master & Doktoral ke luar negeri selama 4 tahun (beasiswa Negara).

Teriakannya yg paling khas setiap saya pulang ke Bali "Ye Ratu..Panak Tiang'e Mulih" (Ya Tuhan..anak saya pulang"), teriakan khas yg tak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun, bahkan sering jadi becandaan dikalangan Ibu, Abang, adik2 & teman2 saya di Jakarta yg pernah saya ajak ke Bali.

Sebenarnya saya bukan 100% orang Bali, Ayah saya memang asli Bali, tapi nenek saya dari Pihak ibu adalah orang Minang dan kakek saya dari pihak ibu berasal dari Kuningan (JaBar), sedangkan saya sendiri lahir dan besar di jakarta. Tapi entah mengapa sejak kecil saya merasa klo saya orang Bali, kebalikan dengan Abang saya yg justru merasa orang Minang, karena kebetulan orang Minang memang menganut paham Matrialkhat (dari garis Ibu).

Minggu 27 Maret 2016
Hari ini Upacara Ngaben akan dilaksanakan jam 13.00 wita, tapi persiapan sudah mulai sejak jam 03.00 wita, untungnya Pagi2 sekali si Tio (adik kandung saya yg tinggal & Bekerja di Denpasar) sudah datang, lumayan membantu kehadirannya :D

*Karena saya lumayan sibuk, maka kamera saya serahkan kepada keponakan2 saya dan hasilnya tidak mengecewakan, hanya saja banyak moment yg kelewatan untuk mereka foto.

Tanpa basa basi si Tio langsung nampang di depan pintu gerbang rumah, hal tersebut mengingatkan saya kepada penjaga gerbang dalam ceritra2 wayang yang mana umumnya adalah raksasa gendut jelek, bertaring dan memegang gada :P
Penjaga Gerbang

Keluarga saya sudah sibuk melakukan persiapan sejak pagi hari:
mempersiapkan tempat utk memandikan jenasah
Persiapan ngaben
masih sepi
Ternyata, ada yg cuma berdiri saja, tanpa ikut bekerja dan hanya teriak2 maen perintah. >=)
Mahluk  yg pakek ikat kepala putih, baju hitam, sarung hijau dilapis merah itu adalah Ayah saya. 
Kami (Saya, tio, saudara2 misan, kerabat & para keponakan) saling memberi kode kalau ayah saya datang mendekat, sehingga kita punya kesempatan untuk lari menyelamatkan diri & mematikan rokok hehe :D B-)
Ketua mafia lg mengawasi

Beralih ke Bale Dangin (Balai timur), yg merupakan tempat meletakkan jenasah dan banten (sesajen) utk keperluan upacara. 
Bale Dangin

Ohh iya, kakak misan saya berceritra tentang kejadian horror yang terjadi di Bale dangin ini tadi malam, ceritranya : "Sekitar tengah malam yg dingin, mencekam, diiringi hujan gerimis yang penuh mistis, tiba2 terdengar suara aneh meyeramkan yg sangat keras memekakkan telinga (mungkin lebih dari 120 db), suara nya seperti suara geraman mahluk buas.


Semuanya yg tidur di sisi selatan Bale Dangin (umumnya wanita & anak2) menjadi terbangun, panik dan sangat ketakutan, timbullah kegaduhan dan mereka langsung mencari asal suara, ternyata suara geraman tersebut, arahnya berasal dari jenasah Iwa saya.

Untungnya suara tersebut akhirnya tak terdengar lagi sekitar jam 03.00 wita, mereka pun bisa melanjutkan tidur dengan tenang"



Saya langsung flash back ke kisah tadi malam; "saat itu saya sudah sangat mengantuk, tapi rumah masih sangat ramai dengan lampu menyala terang benderang yg membuat saya kesulitan untuk tidur, padahal saya harus bangun jam 03.00 pagi untuk bersama sama para pemuda memotong Babi, ayam & kemudian memasaknya.

Akhirnya saya mencari tempat sepi dan gelap yg saya dapatkan di selah antara balai tempat jenasah & tembok (dibawah kolongnya), posisi saya tidur memang tidak terlihat (kecuali dari dekat) apalagi saya menutup tubuh saya dengan sarung...jadi suara geraman tsb bukan berasal dari setan, jin mahluk buas atau apapun, tapi suara Dengkuran saya" =D =D

Lanjut ceritranya yaks: Didekat Jenasah, ada babi guling berukuran kecil yg dijadikan sesajen:
Sajen Babi Giling kecil
Ternyata para keponakan saya, hanya duduk duduk bersantai saja.  =D



Saya diajak keponakan2 saya untuk foto bareng, hmmm jadi kek germo foto sama cabe cabean :P X_X
bareng cabe2 an Sidan
Saat harus "Ngening" (Ngambil Tirta di Pancuran), ke isengan saya tiba2 kumat; saya sengaja mengerjakan tugas lain, sehingga si Tio lah sebagai anak Laki yg sedang tidak sibuk, disuruh ayah saya memimpin rombongan para wanita untuk ngambil air suci ke Pancuran.

Si Tio ini sejak kecil jarang pulang ke Bali (kebalikan dari saya), sekalipun sejak tahun 2011 sesudah dia tamat kuliah dari sekolah tinggi pariwisata di Bandung, dia dan mantan rekan2 satu kampusnya tinggal & bekerja di Bali; dia tetap jarang pulang ke Sidan & tidak bisa bahasa Bali (Karena pergaulannya di Bali juga dengan orang2 pendatang).

Dia tidak tahu dimana letaknya pancuran (Pemandian umum) yg memang sejak Masyarakat desa saya menjadi makmur setelah Jatuhnya Rezim ORBA & diberlakukannya OTODA; Pancuran tsb jarang sekali digunakan lagi, karena semua warga sudah mampu membuat kamar mandi sendiri di rumahnya.masing2. Berbeda dibanding sebelum tahun 1998 dimana waktu itu kalau mandi kita harus ke pancuran, BAB di kali dan nonton TV ramai2 di balai banjar (Balai Desa)..

Tio ini usianya 10 tahun lebih muda dari saya (dia anak bungsu dan saya ke 2), generasinya dia tidak merasakan jaman2 tsb setiap pulang ke Bali.
Bahkan rekan2 saya seperti Om Chomenk Rahman, jauh lebih hapal seluk beluk kampung saya.di Banding Tio. 

Sebenarnya Pancuran itu berada di sisi barat kampung saya, tapi harus turun melewati jalan setapak kearah area pesawahan.

Benar saja; rombongan ternyata nyasar, diajak muter2 tanpa arah oleh si Tio, anehnya para wanita yg orang asli Sidan, tidak berani memprotes dan mengikuti saja kemanapun si Tio Melangkah..setibanya kembali di rumah, mereka tampak sangat kelelahan dan para wanita sadar klo mereka dikerjai oleh saya..
Kembali dari Ngening


Kehausan sehabis nyasar sambil membawa koin2 dari logam yg lumayan berat

Para tamu sudah hampir semuanya selesai makan, sekarang giliran saya menghajar makanan:
Makan yukss
si tio terfoto sedang merokok..klo dilihat ayah saya,
akan lgs digampar dia haha
Lawar yg haram
Lawar yg halal (ga enak)
Yang bertugas bermain gamelan telah siap beraksi, berarti sekarang saatnya untuk memandikan jenasah diiringi suara gamelan


Saatnya memandikan jenasah. 
Iwa saya ini meninggal pada 19 februari 2016, tapi karena meninggalnya bertepatan dengan hari raya (Galungan & Kuningan) dan juga akan ada hari raya nyepi awal maret, maka jenasah baru akan diaben pada 27 maret 2016 ini...

Jenasah  dititipkan di RSUD Gianyar dan baru diambil tgl 25 sore...hmmm..aturan adat yg aneh?? kebayang kan gimana kondisi jenasah yg sekalipun sudah di formalin dan diawetkan di RSUD ckckck..apalagi jaman dulu sewaktu belum ada formalin & tehnologi pengawet..Aturan adat ini memang hanya ada pada Bali Majapahit, sedangkan Hindu India sendiri pasti akan lgs membakar Jenasah tak lama sesudah orang tsb meninggal dunia. 





saya ini orang yg sama sekali tidak percaya mistis dan hal2 sejenisnya, tapi ada satu moment yg sampai detik ini saya tidak bisa menjelaskannya secara logika. :

"Saat memandikan jenasah, tiba tiba, istri dari kakak ayah saya (Uwa saya) mendadak menangis histeris, awalnya masih wajar, tapi kemudian dia mulai Mekidung (melantunkan doa suci) dalam bahasa Kawi (Bahasa sastra Jawa Kuno) dengan sangat Merdu.

Anehnya orang Hindu Bali sekalipun, hanya segelintir yg hapal kidung ini, palingan hanya golongan Pedande (Pendeta Hindu) dan Pemangku (pendeta dari kasta Sudra) saja yg hapal, sedangkan Istrinya kakak bapak saya ini seorang Muslimah yg ber etnis Sunda (bahasa Bali saja tidak bisa, apalagi bahasa kawi). 

Seorang Misan saya (saya Panggil Bu Kepsek) yg kebetulan seorang Kepala Sekolah dan mendalami agama hindu, membisikkan ke saya klo Kidung yg dinyanyikan Uwa saya itu adalah "doa pengantar arwah" dan dia sendiri pun mengaku tidak hapal, hanya bisa mengikuti saja klo ada yg memimpin menyanyikannya. 

Bu Kepsek menduga klo Uwak saya kerasukan arwah Pekak saya (Kakek) yg adalah seorang pemangku tersohor saat masih hidup dahulu (hal itu kemudian di Iyakan oleh Uwa saya yg kerasukan tsb, dia bilang Pekak saya datang dan minta ijin utk meminjam raganya)"

Belakangan saya cari info tentang kidung tsb, ternyata diperkirakan sudah ada sejak Abad ke 9 di tanah Jawa, kemudian setelah majapahit runtuh tahun 1478, semua kitab2 Hindu Dharma tsb diselamatkan oleh orang2 majapahit yg bermigrasi secara besar besaran ke Bali.

Memang hampir semua doa2 suci Hindu Bali menggunakan Bahasa kawi, karena mayoritas warga Bali adalah wong Majapahit, sedangkan masyarakat asli Bali nya (Bali Aga) jumlahnya relatif kecil, hanya terdapat dibeberapa desa saja, seperti: Tengganan, Trunyan, Sambiran dll. .


Pedande yang akan memimpin upacara sudah hadir, ternyata asistennya SARKAM juga, matanya melirik ke Kamera.
Tampang asistennya itu sepa, mukenya "muke Tampolan banget" hmmm klo ketemu dijalan tampang kek gitu lagi bawa motor ugal2an, pasti saya tidak akan pikir 2X untuk memepet menendang dan menghajarnya sampai babak belur ..husss..kok jadi ngomongin orang. #:-s
Apa larak lirik Tong?! gw sambit botol bir lo. hehe
Sekarang saatnya ritual mepamit, dengan mengelilingi 3X sambil membawa cermin (Ma'ngap saya ga paham ttg ritual ini), saat itu saya lg keluar mengantar seseorang ke Pura dalem dan melakukan koordinasi:
ritual mepamit
ritual mepamit
Bade yang akan digunakkan untuk mengangkat jenasah ke Tempat pembakaran sudah siap.
Bade sudah siap
Saatnya membawa jenasah ke Seme (kuburan) untuk diaben. Rombongan diawali oleh para wanita yg membawa sesajen (Tidak sempat terfoto), kemudian baru rombongan yg mengangkat Bade, kali ini saya memutuskan utk tidak ikut mengangkat (kondisi fisik sedang kurang fit), biasanya para pemuda yg mengangkat Bade meminum alkohol terlebih dahulu (biar semangat) dan saat Bade sudah diangkat tidak boleh diturunkan, harus tetap diatas.

Lucunya; ayah saya ternyata ikut mengangkat bade, sepertinya dia lupa umur, melihat adiknya mengangkat Bade, kakaknya ayah saya yg no 8  tidak mau kalah dengan adiknya, dia ikut2 an mengangkat Bade. Ayah saya sih masih lincah, dia masih aktif bermain tenis lapangan 3X seminggu, tapi kakaknya itu sudah 2X kena stroke dan terbukti dia hampir masuk selokan saat para Pemuda yg mengangkat Bade meliuk liukkan Bade, untungnya sempat ditarik oleh ayah saya dan kemudian  dibawa jalan di belakang Rombongan.
Sepertinya Pak KomBes Purnawirawan (Kakaknya ayah saya itu) lupa kalau "masanya" sudah lewat jauh =D

Jarak dari rumah saya ke tempat Pengabenan sekitar 1,2 Km dan untungnya jalannya menurun semua (tidak ada tanjakan) tapi harus melewati jalan raya Gianyar - Kintamani yg lumayan ramai, karena itu koordinasi diantara Pencalang (Polisi Adat), Klian Banjar (Kepala Banjar) & petugas kepolisian yg nanti akan menutup jalan raya harus dilakukan dengan timing yg pas dengan bergantung hanya kepada Radio Komunikasi (HT) saja, agar jalan raya tdk terlalu lama ditutup dan yg mengangkat Bade juga tdk terlalu lama menunggu (berat coy).
Mulai mengangkat Bade
(rombongan wanita yg membawa banten sudah didepan)
Ternyata, saya ke Foto juga
Ehh ternyata juga ada 2 gadis Bali "Plat B" yg tertangkap kamera:
lg megang apa neng..ehh..gek?
suasana riuh rendah saat mengangkat Bade ini, semua bernyanyi dan bersorak sorai tanpa henti sambil mengayun meliuk liukkan bade kekanan, kekiri, ketas dan kebawah. 
Koordinasinya hari itu cukup bagus, kita hanya menunggu sekitar 1 menit saja saat bade sudah diangkat dijalan desa, sebelum dapat intruksi dari polisi via HT untuk bisa memasuki jalan raya yg sudah ditutup dari 2 arah (selatan dan utara).

Saat menunggu lalulintas 100% clear setelah penutupan jalan oleh kepolisian, Para pembawa Bade kembali  meliuk liukkan bade kanan kiri, atas bawah dan tiba2 mereka mengkumandangkan lagu "Indonesia Raya"  Hmmm rupanya karena efek Vodka jadi pada Nasionalis, tapi sayangnya diujung lagu mereka berteriak "HIDUP BRAKO"
*Saya masih ragu mengupload videonya.

Brako adalah kakak sepupu saya yg terkenal penjudi, pemalas (pokoknya semua yg jelek2 dah hehe), tapi wajahnya yg sok polos (padahal bego) dihiasi oleh cengegesan yg tanpa henti, membuat kita tidak bisa marah kalau melihatnya dan malah tersenyum.
Bahkan Klian Banjar (Kepala Desa), sempat berteriak dalam bahasa Bali tapi sambil tersenyum lebar yg terjemahannya kira2 :" Brako mana Brako?? saya Hajar nanti kepalanya." 

saat itu Brako tidak terlihat batang hidungnya sama sekali, sepertinya dia tertidur karena malamnya habis bermain Ceki (judi kartu). Padahal kehadirannya sangat dibutuhkan.

Setiap bertemu persimpangan jalan, bade diputar 3X dan karena kelelahan serta kepanasan (saat itu tepat jam 13.00 wita) mereka berteriak "air air air air" dan sebagai balasannya..beberapa warga yg kebetulan rumahnya dipinggir jalan menyemprotkan air dari selang kearah rombongan kami..SUEGERRRR.

Akhirnya, kami tiba di Tempat pembakaran jenasah, persiapan langsung dilakukan, ramai sekali yang hadir di Tempat pembakaran mayat saat itu, banyak diantaranya yg bahkan saya belum pernah melihat wajahnya, tapi banyak juga kenalan2 lama dengan wajah baru nya (sudah tua) yg kembali saya jumpai saat itu: ::







beberapa adegan menggelikan juga tertangkap Kamera:menjelang ngaben saat itu, hal yg saya sendiri tidak sempat memperhatikannya, karena saat itu sedang sibuk, tapi untungnya keponakan2 saya berhasil mengabadikannya dengan kamera saya.
Ini kakaknya ayah saya yg no 8
Tingkah santai sang Kombes purnawirawan ini
Mengundang gelak tawa & yg disebelahnya
anak dari kakaknya ayah saya yg no 6
yg memakai baju biru, gendut & berkacamata itu
adalah istrinya sang kombes pirnawirawan
(yg sebelumnya sempat kesurupan
).Dia mentertawakan tingkah polah suaminya.
akhirnya banyak yg ikut menengok juga


Api sudah dinyalakan, saat ini proses pembakaran jenasah sudah menggunakan Gas, jadi hanya berlangsung sekitar 1 jam saja, tidak seperti dahulu saat masih menggunakan kayu bakar,  ini moment yg sangat menyedihkan buat saya pribadi: 



Karena Pembakaran jenasah ini butuh waktu sekitar 1 s,d 1,5 jam, saatnya duduk bersantai, ehh..saya ketangkep kamera juga lagi mengeluarkan rokok: 
Saat mengeluarkan rokok, si Tio yg terlihat perutnya saja,
berdiri mengawasi posisi ayah saya, karena kita tidak mau
ketangkap basah sedang merokok
Clear..aman..ayah saya dan kakaknya yg no 8
(sama2 menggunakam baju hitam bergais
putih, sedang berbicara dgn seorang kerabat..
mari kita sundut rokok hehe
Selesai merokok (untung ga ketahuan), saya dipanggil ayah saya:
apa sih manggil manggil?
ga punya tangan ya?
kerjain aja sendiri
(tapinya kagak berani saya ngomong gitu) hehehe
Ternyata keponakan saya yg memegang kamera ganjen juga, dia banyak sekali mengambil gambar dari 2 Gadis Bali plat B (itu bukan saya yg moto loh, kamera tidak ada pada saya):


ini Pasti lg ngomongin brondong yg di Pekayon (Bekasi)
Aqua..Aqua ..Aqua.. 50rb / botol
Ini kakaknya ayah saya yg no 9
dan anaknya kakak ayah saya yg no 7
Kali ini kamera saya ambil alih, sesaat kita alihkan pandangan ke belakang area Seme (kuburan), disitu ada Stage Sidan yg dibangun diatas area persawahan, Stage ini awalnya dibuat untuk menjadi tempat pementasan tari2 an dan kesenian lainnya, tapi karena jarang sekali wisatawan yg berkunjung ke Sidan, akhirnya tempat tsb sekalipun masih rapih terawat, tapi jarang sekali digunakan, selain sebagai tempat istirahat (berteduh) saat warga Sidan sedang Ngaben. 
Sidan
Sekalipun Sidan terletak di Kabupaten Gianyar yang terkenal akan seni, budaya & Pariwisatanya, tapi memang Sidan ini bukan tujuan wisata seperti halnya Ubud, Tampak Siring dll yg juga masuk wilayah Gianyar. Pada Bagian III nanti, saya akan ajak pembaca sekalian untuk explorasi sebagian wilayah Sidan.


Pembakaran jenasah sudah selesai, sekarang saatnya mengumpulkan sisa sisa tulang jenasah, bagaimana caranya membedakan? gampang yg berwarna putih karena mengandung zat kapur itulah yg merupakan sisa sisa tulang: :

Ngumpulin sisa2 tulang


Setelah itu, sang Pedande menghilang cukup lama, sampai saya sempatkan makan bakso & tidur2 an di stage Sidan, setelah dia kembalipun; dia membaca doa doa dengan sangat lama, sampai2 saya lapar lagi & menjadi gelisah hehe
 :
Buruan doa doa nya bos..
Laper & haus nih hehe
Akhirnya setelah melewati 7 bulan purnama, 26 sunrise & 25 sunset (lebay, padahal 2 jam doang ) sembahyang pun selesai, kami segera bergegas ke Pantai Lebih, Gianyar untuk ngelarung (membuang abu jenasah ke laut).

Saat Kami tiba di Pantai lebih, hari sudah gelap:
Cabe cabean Sidah =D
Suasana menjelang ngelarung
Suasana menjelang ngelarung

Saat Abu Jenasah dibuang ke laut, suasana benar2 gelap gulita hanya bermodalkan senter dari seorang pencalang :



Ketika kami hendak pulang seorang misan saya berteriak dengan sedih "Yeee.. entung'e Iwe" (dibuang Iwa nya)..

Saat tiba diparkiran, seorang sepupu saya meminta saya untuk membawa salah satu mobil pickup yg kami sewa, karena sopir yg membawanya saat berangkat menyerah mengemudikan mobil yg kondisinya sudah sangat mengerikan ini.


Yasudah saya berikan saja konci mobil Avanza kepada ayah saya dan saya siap beraksi dengan Pickup ini..tapi siyalnya saya justru menjadi bahan ledekan gadis2 Bali plat B yg tertawa bahagia melihat saya jadi sopir pickup sambil menyuruh saya mengalungkan handuk di leher.


Benar2 menegangkan membawa Pickup penuh penumpang yang hard to handle ini, bagian kaki2 & kemudinya sudah rusak parah, stir bergerak liar kekanan dan kekiri secara extrim tanpa terkendali. Sepertinya Tie Rod, Long Tie Rod, Ball Joint dan teman2 nya sudah rusak parah, rem nya harus dikocok dahulu, mesinnya pun brebet parah, dengan Bensin yg hampir habis, mau ga mau harus ke SPBU dahulu (untungnya di asbak nya ada uang 100rb) hehe


Saya sih sudah biasa membawa pickup atau bahkan colt diesel sejak masih SMP, tapi kali ini masalahnya yang saya bawa adalah manusia yg mayoritas anak2 dan wanita, sedangkan biasanya saya hanya membawa barang2 saja, belum lagi rombongan yang lain sudah terlebih dahulu jalan,,,,saya ditinggal sendiri dengan mobil yg sewaktu waktu bisa mogok atau bahkan "MELEDAK" kek gas 3 kg ini ditengah area persawahan yg sepi & gelap gulita.

Setelah sempat mampir ke Kuburan untuk mengangkat berapa sampah tersisa, saya akhirnya tiba di rumah dan meyaksikan semua2 saudara saudara saya dipimpin si Tio sedang makan dengan sangat brutal hehe...saya ga mau kalah.SERBUUUUUUUU..BANTAI HABIS....JANGAN KASIH AMPUN..



Sisi Lain Pulau Dewata bagian I (Perjalanan Bekasi - Gianyar)

Tujuan touring kali ini, adalah untuk menghadiri upacara Ngaben Kakak Perempuan tertua dari ayah saya (Iwa saya), yg akan diadakan pada 27 Maret 2016 di Sidan, Gianyar.

Sehubungan sejak januari s.d Februari 2016 saya sudah 2X pulang ke Bali dari Jakarta dengan menggunakan gas injak (Mobil), sampai saya berasa jadi seperti sopir travel, maka kali ini saya berencana menggunakan gas tarik (motor), biar sekalian bisa lebih lincah untuk explore sisi lain Pulau dewata beserta 3 Nusa.


kenapa saya menyebut sisi lain Pulau Dewata? Karena touring kali ini saya tidak akan mengunjungi obyek2 wisata yg sudah sangat populer di Bali, seperti; Uluwatu, Pandawa, Kuta, Tanah Lot.

Coretan saya kali ini akan menceritrakan touring saya mengunjungi obyek2 wisata yang bisa dibilang anti mainstream, seperti: Bukit Asah, Sekumpul, Dusun Kuning, Pasih Uug, Mata air Tembeling dll.


Memang masih belum komplit, tapi segera mungkin saya akan kembali pulang ke Bali dalam waktu dekat ini untuk kembali explore obyek2 wisata anti mainstream yang lain.


Kamis 24 maret 2016 (Bekasi - SPBU Utama Raya)

Jam 02.00 wib saya start dari rumah di Kodya Bekasi, hanya ber 2 saja dengan Andini (Megapro 2001 kesayangan saya).


Senang sekali rasanya bisa kembali menggunakan gas tarik, setelah sempat  pensiun Touring motor selama 6 bulan, sejak kembali dari Touring Lebaran part 5 pada September 2015 (saat itu touring selama 1 bulan).

Diluar kemacetan serta kepadatan lalulintas menjelang long weekend dan hujan deras yang turun nyaris tanpa henti sejak dari Gresik (dekat Waduk Bunder); perjalanan terbilang aman tentram tanpa masalah, hanya saja sol sepatu saya (sepatu gunung murahan buatan Cina) sempat lepas, tepatnya mangap lebar seperti mulut buaya saat menerjang banjir di jalur antara Gresik - Kriyan, Sidoarjo.


Sialnya; saat yg kanan sudah di sol di pasar Krian, yg kiri latah; ikut2an lepas juga sol2 an nya:tepat didepan Ramayana, Sidoarjo, repot lagi cari tukang sol sepatu karena hari sudah menjelang malam, akhirnya saya ikat saja dengan karet ban, dan hasilnya di kota Sidoarjo yg sedang sangat ramai itu; saya dengan tampilan dekil habis kehujanan & sepatu diikat karet ban menjadi pusat perhatian..untungnya cuma sepatu saya yg diliatin dan bukan sayanya hehe B-) \m/

Sekitar jam 22.00 wib dengan badan basah kuyup & penuh lumpur, saya tiba di SPBU Utama Raya, Situbondo, saya langsung mandi air hangat di Toilet VIP nya seharga Rp 7.000 dan ganti baju, kemudian Tidur di balai balai SPBU yg ada di Bagian timur sambil ngopi & ngemil. Sementara itu beberapa sopir, penjaga SPBU, penjaga kantin dll yang juga sedang istirahat, malah sibuk nongton sinengtrong kalkun.. ehh maksudnya Turki,  tapi jangan tanya judulnya apa? saya ga tau, tipi di rumah saya ga nangkap siaran VIVA Media Group soalnya. (n)

.
SPBU ini merupakan tempat favorit saya untuk tidur, karena ada 3 balai di bagian timur dengan setiap balainya berukuran 2 X 3 Meter. Motor bisa diparkir tepat didepannya, ada mobil Polisi yg selalu stand by (keknya juga lg nongton sinetron Turki ..ckckcck), ada minimarket, ATM, Hotel dan cafetaria,


Jumat 25 maret 2016 (SPBU Utama Raya - Gianyar)

Rencana awal saya hanya akan tidur 3 jam saja di SPBU ini sebelum melanjutkan perjalanan, tapi karena malam sebelumnya saya sama sekali tidak tidur, ditambah kemarin lusanya juga hanya tidur 2 jam saja, maka saya bablas tidur sampai jam 04.00 wib..sempat terbangun sih, sekitar jam 02.00 wib karena suara mesin dari Rombongan HCCS (Honda CBR Club Surabaya) yg hendak melanjutkan perjalanan, tapi bukannya lanjut jalan, saya malah lanjut mendengkur lagi. #:-s

Jam 04.10 wib, saya baru melanjutkan perjalanan dan dibagian ini, karena mengejar waktu agar bisa masuk Denpasar sebelum Tengah hari yg pasti akan sueperrr panas & macet, saya terpaksa menarik gas tanpa ampun dengan tidak menyisakan sedikitpun.


Masuk Baluran sekitar jam 05.10 wib (ga tahu pasti), dimana saat masuk masih gelap dan saat keluar matahari sudah mulai sedikit terlihat, terasa sekali segarnya udara pagi, saya langsung menurunkan speed & membuka kaca helm.


Biasanya saya lewat Baluran sekitar jam 23.00 - 03.00 wib sambil ngebut terus tanpa tengak tengok.. tapi ternyata akibat ketiduran tadi ada hikmahnya juga.

Sempat berhenti untuk sarapan dipasar Ga'lean, Asem Bagus, saya tiba di Pelabuhan Ketapang sekitar jam 06.45 wib, ternyata ketemu lagi dgn rombongan HCCS yang tadi di SPBU Utama Raya suara mesinnya sempat membuat saya terbangun..

Hal yang paling mengesalkan saat ini di Pel Ketapang, adalah: kewajiban untuk mengisi form (nama, alamat, usia, nopol kendaraan) yg diberlakukan sejak tenggelamnya Ferry Rafelia 2 (dibagian video roadtrip taon baru paling bawah, ada cuplikan video saat mobil saya memasuki Rafelia 2). Form tersebut nantinya ditunjukkan ke loket tiket untuk dicatat dan diberikan kepada ABK kapal yg akan kita naiki.
Peta jalur lintas Jawa nya :Peta Jalur Bekasi - Banyuwangi

Di atas Ferry, saya sempat ngobrol dengan RC dari kelompok HCCS tersebut, mereka akan menginep di Kuta dan saya arahkan agar mereka jajal jalur lain (Gilimanuk - Seririt - Munduk - Buyan - bedugul - Kuta). 
Klo tidak ada upacara sih, saya akan ajak mereka explore tempat2 wisata yg anti mainstream di Bali, tetapi apa daya.....

"Om Swastiastu Rahajeng Rauh

 Ring Bali"

Jam 09.00 wita saya merapat di pelabuhan Gilimanuk dan Tulisan diatas memang tidak ada di Gilimanuk (tidak seperti di Bandara Ngurah Rai), tapi selama 2 Dekade saya mengemudi baik motor atau mobil sendiri pulang ke Bali (mungkin sudah puluhan atau bahkan ratusan kali)..senyuman ramah  beraroma mistis khas Pulau Dewata seakan tidak pernah bosan menyapa setiap kepulangan saya ke Bali.

Awalnya saya sempat ragu untuk lewat jalur utara atau selatan Bali, tapi akhirnya dengan pertimbangan ,jalur selatan Bali pasti akan macet parah saat long Weekend, saya  langsung gas pol saja via Jalur utara Bali.

Secara jarak dari Gilimanuk ke Kampung saya dengan lewat utara memang lebih jauh dan jalurnya diantara Singaraja - Bangli lebih sulit & berliku, tapi waktu tempuhnya saat jam jam sibuk, biasanya selalu jauh lebih cepat karena jarang sekali ada kemacetan.

Memasuki daerah Pulaki, saya break untuk minum kopi dan es kelapa, karena selain ngantuk, saya juga sedikit dehidrasi. Disini, saya sempat mengambil 1 foto:
View dari warung di Pulaki
Perjalanan berlanjut, di Kota Singaraja, ada seorang Polantas yg memberikan kode; agar saya menghidupkan lampu, padahal saya merasa lampu sudah hidup..ternyata bohlam lampu pendek saya putus, untungnya kejadiannya di Bali dan polisinya juga orang Bali (saya sempat membaca namanya), yg pastinya paham Karma Pala, jadi dia hanya memberitahukan saja, tanpa men stop, kalau di tempat lain..hmmm: pasti saya langsung di tilang..
*om swastyastu... matur suksma nggih, pak

Memasuki Kintamani, dengan posisinya didaerah dataran tinggi yg biasanya selalu hujan, kali ini sangat cerah dan sedang sangat ramai oleh orang2 yg sedang menjalankan upacara adat; sepertinya saat itu, orang2 berdarah Bali dari seluruh pelosok Bumi (termasuk saya), sedang pulang ke Bali karena Lusa (tgl 27maret), serempak akan diadakan upacara di seluruh Bali, seperti; Ngaben, Nikahan dll. 



Sayang HP & Kamera saya tersimpan rapih di side bags (ribet ngeluarin lg), pemandangan yg sangat unik tersaji saat itu: gadis2 dengan pakaian adat Bali tapi tetap terlihat  modis kekinian, lengkap dengan gadget mahalnya & tongsis, sibuk ber selfie ria berlatar Gunung & danau Batur (pasti mereka orang Bali perantauan), mereka berbaur dengan wisatawan domestik (lagi long weekend) & mancanegara membuat pemandangan menjadi semakin indah menggairahkan :D  (y) @};-


Saat itu saya memang tidak berhenti dan foto2 di Kintamani, tapi buat yg belon pernah ke kintamani, biar ga penasaran, nih foto2 dari Roadtrip taon baru 2016 saya:
View Danau Batur dari RM Batur Sari
View Dari Penelokan Kintamani
View Danau Batur dDari Dermaga kedisan
View Danau Batur dari Desa Soongan A
Sekitar Jam 14.00 wita, akhirnya saya tiba di Kampung saya di Banjar JagePerang, Sidan, Gianyar dengan tubuh yang cukup lelah, bisa dibilang ini adalah waktu tempuh terlama saya saat solo riding. Total 35 jam sudah termasuk tidur lebih dari 5 jam.
Biasanya rata2 waktu tempuh saya hanya 30 Jam (termasuk 3 jam tidur), sedangkan waktu tempuh tercepat saya adalah 23 jam 55 menit pada tahun 2011 (tanpa tidur) dan waktu tempuh sebelumnya 26 jam (tanpa tidur) pada tahun 2015..

Tidak sempat istirahat, saya langsung mandi dan kemudian membantu mempersiapkan upaxara ngaben.

* Peta Jalur sudah dilengkapi keterangan
*Rincian Biaya :
- Bensin Premium (saat itu Rp 7.050 / liter) = Rp 210.000
- Makan, minum, rokok & jajan = Rp 250.000
- Ferry Ketapang - Gilimanuk = Rp 23.000
- Sol Sepatu (sebelah kanan di pasar Krian) = Rp 10.000
- Sol Sepatu kanan & Kiri (di Pasar seririt) = Rp 15.000
             Total =   Rp 508.0000          

* Touring kemarin tidak sempat membuat Video, karena 2 Buah SDHC 32GB jatuh &        hilang, tapi ini ada Selipan Video Roadtrip Tahun baru 2016 (dengan gas injek                tapinya):
   
          Video dari Roudtrip Tahun baru 2016



SELESAI



Sabtu, 24 Januari 2015

Mendadak Mudik & Tahun baruan ke Bali (bagian 1)

Di suatu sore tanggal 27/12/2014, saya yg awalnya hanya berniat menghabiskan liburan akhir tahun di rumah saja, tiba tiba; mendapat sebuah telp dari saudara sepupu saya yg tinggal di Bengkulu dan mengatakan bahwa; "dia sedang berada di Jakarta & sebentar lagi akan langsung terbang menuju Bali dgn pesawat".
Sepupu saya tersebut, mati2 an merayu saya, agar saya ikut dengannya ke Bali dan DORRRRRRR, saya mulai bimbang utk tetap berlibur di rumah saja atau menyusulnya ke Bali.

5 menit kemudian, saya kembali mendapat telp dari seorang rekan yg anehnya, juga mengajak saya utk berlibur ke Bali (dia sudah memegang tiket pesawat utk besok pagi), kok bisa sama ya; tujuan dari 2 ajakan tersebut???? Kali ini, Tanpa berpikir panjang saya langsung meng iya kan "siap neng... gw susul, dengan motor, tapi gw selesaikan pekerjaan gw dulu, mungkin tar malam atau besok subuh gw start dari JKT".

Setelah telp saya tutup, saya langsung menyesal sudah meng"iya"kan ajakan tsb, Mengingat kondisi fisik saya sedang drop, kondisi keuangan sedang krisis, motor sedang tidak fit (belum service, belum ganti rantai set, 2 ban sudah gundul, kelistrikan motor sedang bermasalah), apalagi saya masih cedera, akibat terjatuh dalam kecepatan 90KPJ saat mini touring ke Ujung Genteng beberapa hari sebelumnya, gara2 ban depan yg mendadak meletus.

Yasudah.. saya hanya terpikir utk mengganti Velg Racing saya dgn velg jari2 bawaan motor, mengingat tromol rem belakang velg racing saya sudah sangat haus. Sedangkan utk oli mesin baru terpakai 500km, amanlah untuk sampai Bali (saya ganti oli setiap 2000 - 2500km).

28 Desember 2014

Awalnya saya berniat berangkat dari Jakarta jam 01.00 wib, karena itulah waktu yg paling ideal untuk melintasi Pantura, tapi pekerjaan saya baru selesai sekitar Jam 03.00 wib (dinihari), sehingga, sekalian saja saya putuskan untuk tidur terlebih dahulu.

Tepat jam 07.00 wib, setelah packing secara kilat, Andini (motor saya), mulai saya pacu menuju Bali melewati jalur Pantura, sebagai jalur yg tercepat menuju Bali. Tidak ada yg spesial buat saya dalam hal perjalanan menuju Bali, saya sudah puluhan kali Riding motor atau Driving mobil dari Jakarta menuju Bali sejak sekitar 2 dekade terakhir (sejak saya masih SMA), karena kebetulan Ayah saya berasal dari Bali, tepatnya di Sidan, Gianyar. 



Biasanya, setiap perjalanan saya Jakarta - Bali PP (baik dengan mobil atau motor); saya selalu mengemudi sendiri (tanpa diganti) secara non stop, dalam arti hanya berhenti untuk makan atau refueling BBM.  Peta jalur Bekasi-Banyuwangi via Pantura

Touring kali ini, saya menerapkan manajemen touring dgn cara yg sedikit berbeda, Mengatur tempo mengemudi dan mempercepat refueling BBM; yg biasanya setelah lebih dari 350km, menjadi hanya sekitar 250km saja, dimana setiap refueling saya barengkan dengan istirahat, makan, minum, ngopi atau sekedar merokok saja, prinsipnya istirahat sebelum lelah, agar tubuh tdk butuh waktu lama utk recovery kembali. Cara mengemudi saya kali ini juga cenderung santai, tidak ngotot & tidak agresif seperti biasanya tapi mengedepankan konsistensi; Hal tsb ternyata terbukti efektif membuat stamina saya tetap prima & tidak merasa Lelah sama sekali, Inilah sebabnya, kenapa saya lebih menyukai Solo Riding, saya bisa bebas mengatur semuanya sendiri, tidak harus menunggu barengan, menyesuaikan dgn speed & waktu istirahat mereka yg akhirnya malah jadi kelewat lama & justru bikin lelah.

Lalulintas hari itu cukup lancar, jam 10.00 wib saya sudah masuk Cirebon (3 jam) dan 14.00 wib sudah masuk Semarang, tapi selepas Kudus, hujan yg kek ababil mulai mengganggu saya, sepertinya "kutukan hujan ababil" ini masih menghantui saya sejak balik solo rding dari Sabang bulan agustus 2014 yg lalu, ..benar2 menyebalkan, karena harus memakai & melepas lagi jas hujan.

Sepanjang perjalanan, saya juga selalu berkomunikasi dgn rekan2 bikepacker yg sedang di Yogya yg menginap ditempat mas dab jarot dan mendapat Info, kalau Jordie & seorang temannya juga otw menuju Bali dari Yogya. Saya yakin, sekalipun mereka start 550km didepan saya, tapi mereka pasti akan tersusul oleh saya di SPBU utama Raya, saat mereka bermalam nanti.

Sekitar Tengah malam (lupa pastinya), saya tiba di SPBU utama raya, banyu guglur - Situbondo (3km di timur Payton)..saya sudah menebak dimana Jordie parkir, saya lgs menghampiri sebuah balai (dibagian timur SPBU) dan langsung berteriak keras membangunkannya, begitu melihat 2 motor plat "B" terparkir didepannya . Sepertinya dia yg sedang tidur,  sangat kaget melihat saya yg tiba2 muncul.

29 Desember 2014

Sekitar 1,5 jam saya mengobrol dengan  Jordie sambil menunggu hujan reda, tapi berhubung saya sama sekali tidak mengantuk, stamina masih sangat bugar, ditambah hujan bukannya berhenti, malah tambah deras, maka saya putuskan melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Jordie serta temannya.

perjalanan dari SPBU utama raya menuju pelabuhan Ketapang ini, hujan deras disertai angin sangat kencang (bahkan motor jadi seperti selalu terlempar kekanan), sedikit memgganggu perjalanan saya, biasanya dibagian ini saya larikan motor sekencang kencangnya (apalagi saat malam & sepi), tapi kali ini saya harus extra hati2. Sekitar jam 04.00 wib saya sudah tiba di Pelabuhan Ketapang dan tiba di Gilimanuk jam 06.00 wita.


Biasanya saya memilih lewat Jalur Bali Utara tapi kali ini karena tujuan pertama saya adalah Jimbaran, mau tidak mau saya via jalur selatan yg padat. Banyak sekali truk2 asal P Jawa yg kelebihan muatan dan kepayahan menanjak, hal mana membuat antrian mobil2 yg kebetulan sedang padat (menjelang tahun baru) menjadi macet, bahkan sedikitnya 2 buah truk yg saya lihat terperosok masuk selokan atau terbalik diseputaran Negara-Tabanan. Dibagian ini, hujan turun sangat deras, sempat berhenti sebentar saat saya tiba di Denpasar, tapi kembali turun lagi dengan derasnya, bahkan mampu menembus jas hujan & sepatu saya yg membuat saya jadi tidak nyaman.


Setelah 26 jam riding, tepat jam 10.00 wita, saya tiba di kostan adik saya di daerah Jimbaran (dekat Benoa Square), lumayan baik catatan waktu saya, yaitu 26jam, Catatan waktu saya ini memang lebih lambat 4 jam dibanding waktu tempuh tercepat saya, yaitu 22 jam pada 9 September 2011, tapi masih lebih cepat dibanding waktu tempuh rata2 saya, yaitu 30jam. hanya kalau dilihat, biasanya saya tidur 3-5 jam di seputaran Rembang sampai Tuban, sedangkan kali ini karena kondisi sedang fit saya tidak tidur sama sekali, maka waktu tempuh kali ini terbilang normal. 

Di kostan adik saya, saya lgs tidur sampai jam 18.30 wita, dan kemudian langsung menuju ke Ubud, tepatnya ke Pertiwi 1 resort di jalan Bhisma, Ubud utk bergabung dengan 3 org rekan saya yg sudah tiba terlebih dahulu, karena mereka berangkat ke Bali dengan menggunakan pesawat. 
Cukup kaget saya mengetahui harga penginapan yg mereka ambil, ternyata Rp 2.500.000 / hari Nominal yg tidak masuk diakal buat saya, yg biasanya hanya tidur di tenda atau SPBU, sebagus bagusnya paling losmen murah kisaran 100 ribuan 

View sisi depan kamar
View sisi balkon & Dalam
View sisi kiri kamar
Kalau hanya utk suasana & pemandangan, sebenarnya kampung ayah saya di kawasan Sidan, Gianyar (arah Kintamani) jauh lebih indah & natural, gratis pulak  , itu sebabnya bingung saya, mengapa org mau bayar mahal utk menginap di Ubud.
Peta Jalur Gilimanuk-Jimbaran-Ubud

30 Desember 2014
Hari ini, Andini , motor saya, saya istirahatkan di Hotel, kami rental Avanza seharga 300rb / hari dan mengunjungi obyek2 wisata yg dekat2 saja dari Ubud, seperti; Gowa Gajah, Mongkey Forest, Tirta empul & Nonton Kecak di batu Bulan, mengingat kemacetan sedang parah2nya di Bali menjelang akhir tahun. Hari ini saya malas Foto2, tapi nanti saya tambahkan foto2nya kalau sudah mendapat kiriman dari 3 orang  barengan saya yg lain.

Ohh iya, selama ini setiap pulang ke Bali, saya jarang sekali mau mengunjungi obyek2 wisata yg mainstream, cukup membosankan, tapi inilah resiko seorang guide amatiran......Kalau nurutin kata hati sih, maunya saya tidur saja di hotel hehehe.


31 Desember 2014
Puas berenang di Pertiwi resort, siang hari saya segera meluncur ke daerah Kuta untuk bergabung dengan adik saya, saudara2 sepupu dari Bengkulu dan rekan2 lainnya, hal ini terpaksa saya lakukan, jika ingin tahun baruan di Kuta, karena akses jalan akan ditutup sekitar jam 16.00 wita. Kami menukar mobil dengan motor rental dan memarkir motor di Central Park Kuta, agar memudahkan keluar dari Kawasan Kuta nantinya, motor saya juga sengaja saya tinggal di kostan adik saya, mengingat akan cukup repot dengan motor saya yg berat & panjang plus box & 2 side bags nya utk melibas kemacetan nantinya sesudah tahun baruan, Saya memilih menggunakan motor matic saja.
gaya pakaian saya kali ini juga berbeda dari biasanya, tidak ada sepatu safety, sarung tangan safety, celana panjang touring, jaket, protector siku & lutut serta semua aksesoris touring yg biasa saya kenakan, kali ini saya hanya mengenakan sandal jepit, celana pendek dan tas daypack utk membawa bekal makanan & minuman. Dandanan saya kali ini benar2 menjadi seperti seorang backpacker tapi tetap dengan wajah gahar seorang biker
Setelah mengunjungi beberapa cafe di depan pantai Kuta, yg ternyata rata2 mengenakan minimum charge Rp 500.000 / pax, lagi2 harga yg tidak masuk diakal, akhirnya kami putuskan utk masuk ke Rollas Cafe saja yg posisinya di dalam Beach walk, awalnya sempat niat nonton film dahulu sampai nunggu malam old n new , tapi ternyata tdk ada film yg menarik.
Jalan didepan pantai Kuta ini sudah mulai tidak terlihat 
ada kendaraan yg melintas

Dandanan backpacker, wajah begal Jalinsum
tanpa sadar, ternyata ada penampakan IGO lg galau dibelakang
Semua orang terlihat gembira, 2 keponakan saya yg sekalipun kelelahan & ngantuk juga terlihat antusias, Mungkin hanya saya & seorang Igo yg tertangkap kamera dibelakang saya yg kurang bisa menikmati suasana menjelang tahun baru, hehe...Sejujurnya, saya sangat tidak menyukai suasana keramaian seperti di Bali ini, didalam beach walk saja sudah sangat2 ramai, sedangkan jalan pantai Kuta didepannya sudah menjadi lautan manusia, untungnya di Rollas Bar ini suasana masih terbilang nyaman.Biasanya kalau tahun baru, saya lebih suka menghabiskannya dengan bekerja atau tidur, kalaupun keluar kota bareng pasangan, biasanya saya memintanya utk bersantai saja di lobby hotel sambil mendengarkan life music. Tapi kebersamaan kami dihari ini sangat sangat langka & menyenangkan, sejak kecil saya bahkan tidak pernah tahun baruan bareng adik kandung saya atau sepupu2 saya, atau keponakan2 saya, bahkan teman2 saya juga ada disini bersama sama, lebih spesial lagi, adik perempuan saya yg tinggal di Australia; kusus menelpon saya hari itu, suaminya juga sempat "membohongi" saya via telpon, kalau dia bsk pagi akan tiba di Bali utk Touring motor bareng saya ke Flores. hehehe.
Ke 2  keponakan saya ini, sebenarnya belum cukup 
umur untuk begadang sampai selarut ini hehehe 
Menjelang tengah malam, kami keluar kedepan Beach walk untuk mencari rumah makan dan mendapati jalan dedepan pantai Kuta sudah menjadi lautan manusia yg bersiap menyambut pergantian tahun. 
keramaian Didepan Beach Walk
Kami masuk ke Utopia - "Fresh fish reataurant"  yg tepat berada dipinggir jalan pantai Kuta, ramai sekali disini, tapi ikan bakarnya sangat lezat.......Selesai makan, kami bergabung dengan lautan manusia........siyall seribu sialllllll..hujan yg sangat sangat deras pun turun, detik2 menjelang pergantian tahun, sehingga ratusan atau bahkan ribuan orang2 tersebut lgs berebut mencari tempat berteduh di pelataran Hard Rock

1 januari 2015
Selepas merayakan pergantian tahun, kamipun pulang, kali ini rombongan terpisah pisah, sebagian rekan2 ada yg menginap di Amaris hotel di jalan Teuku Umar, sebagian ke kost2an harian diseputaran Jimbaran, sedangkan saya menginap di kostan Tio, adik saya yg juga dikawasan Jimbaran.