Kamis, 20 Februari 2020

=KISAH PILU TOURING MUDIK=

Ini adalah kisah touring paling pilu yang pernah saya alami, tapi entah kenapa justru menjadi titik balik dimana untuk pertama kalinya, saya dipaksa melakukan mindful riding dalam  kondisi yang tidak mengenakkkan.

Tidak ada kecemasan dan kekecewaan sama sekali dalam perjalanan kembali ke rumah di Bekasi, dimana kekurangan satu satunya dalam mempraktekkan mindful riding saat itu hanya, sifat pelupa saya masih belum hilang, mungkin karena tehnik meditasi kesadaran saya belum terlatih saat itu.


==MINGGU 9/12/2018==
Dalam perjalanan bermotor dari kampung Saya menuju Pura Gualawah & Pura Penataran Agung Besakih untuk mengikuti rangkaian Upacara adat Ngeliggihan Dewa Pitara & Nyegara Gunung; Tas slempang / tas pinggang saya terjatuh dan hilang entah dimana ??

Adapun tas pinggang tersebut, berisi :
1) Dompet dengan surat2 penting :
- eKTP, STNK motor, SIM A, SIM C, ATM BRI, NPWP
- eMoney Brizzi saldo 400ribuan & Mandiri saldo 26rb
2) HP plus charger
3) SDHC Kamera 32 GB & 2 buah microsd HP 32
4) Uang cash kisaran 800rb
Surat Laporan Kehilangan

Analisa saya, karena saat itu saya sedang demam tinggi dan ribet untuk pertama kalinya memakai baju adat sambil membawa motor laki, saya jadi kehilangan perhatian akan tas Pinggang saya, padahal masukin Box motor saja kan aman tidak akan jatuh.


==RABU 12/12/2018==
Siang itu Saya harus kembali ke Bekasi dari Kampung Saya di Gianyar, Bali, tanpa satu identitas pun, tanpa HP, tanpa ATM, dengan hanya bermodal Surat kehilangan & uang Rp 500.000.

Nominal yang sangat kurang, karena setelah dihitung, biaya yg dibutuhkan :
1) Oli Mesin = Rp 50.0000
2) eMoney = kartu baru + Saldo = Rp 72.000 (padahal tiket ferry untuk motor hanya Rp 24.000, tapi wajib bayar dgn eMoney Bank pemerintah).
3) Bensin Pertalite = Rp 235.000
Berarti saya hanya punya sisa  Rp143.000 untuk makan, minum, kopi, rokok dan ngemil selama 35 jam riding, sungguh jumlah yang sangat minim.

Sebenarnya bisa saja Saya menerima tawaran saudara & kerabat untuk meminjam uang mereka, tapi prinsip Saya tidak mau menyusahkan orang lain, kecuali benar benar keadaan darurat (toh jika benar2 darurat saya juga ada beberapa kenalan di Kota2 yg akan saya lewati nanti.

Mengingat Saya sudah puluhan kali riding balik ke Jakarta dengan cara berhemat, apalagi Andini (motor saya) tidak sekalipun pernah rewel dijalan selama ini, Saya tetap berangkat dengan penuh keyakinan, tenang dan super percaya diri.

Sekitar 1 Km Selepas kota Tabanan, ada sedikit insiden kecil yang melibatkan Saya dengan seorang ABG bermotor Sport 250 cc  ugal ugalan, untungnya Keajaiban berhasil menyelamatkan saya dari kecelakaan.

Menjelang masuk Kota Negare, ada sediit keramaian; ternyata ABG si pengemudi ugal ugalan tadi, sudah tergeletak  bersimbah darah di tengah jalan.

Setibanya saya di Pelabuhan Gilimanuk, ternyata; hanya dengan berbekal "surat kehilangan", saya lancar lancar saja melewati 2 lapis pemeriksaan (Pecalang & Polisi).

Sungguh beruntung pula Saya kali itu, ternyata mesin GDC nya sedang offline, jadi bisa bayar cash 24rb tanpa harus membeli kartu baru eMoney lagi.
Artinya saya save 48rb dan uang saya bertambah jadi 143rb + 48rb = 191rb.

Ketika akan keluar dari Pelabuhan Ketapang, saya sempat bimbang; belok kiri (via selatan) atau belok kanan (via utara), sehubungan sedang ada perbaikan gorong gorong di Situbondo-Probolinggo (dekat Paiton) ditambah saya masih trauma terkena kemacetan maha dahsyat saat berangkat yang disebabkan banjir tinggi, 2 titik perbaikan jalan dan perbaikan jembatan kaligawe di Semarang.

Dengan pertimbangan uang yg tipis, akhirnya saya putuskan via utara saja, dikarenakan lewat selatan lebih jauh, lebih lama serta menguras bensin dan uang makan lebih banyak.

Perjalanan dari Pelabuhan Ketapang sampai Tuban relatif lancar sekalipun saya selalu ditemani hujan deras tanpa henti sampai Kota Lamongan, hanya sayangnya; tangki di perut saya mendadak jadi jauh lebih boros dari tangki motor saya, dimana setiap 4 jam selalu minta diisi minimal 2 piring nasi, mungkin karena setelah sempat sakit tenggorokan disertai demam tinggi sejak sebelum berangkat ke Bali, saat itu kondisi saya mulai pulih yg biasanya justru membuat napsu makan saya jadi menggila tanpa ada pengertian sama sekali terhadap kondisi keuangan yg tipis.
Entah kenapa? sepanjang melintasi Jawa Timur, selalu terbayang : Pecel Pitik (Khas suku Osing) di Kota Banyuwangi), Nikmat Rasa, Pasuruan (seafood) dan Pecel Tumpang di depan Polsek Krian (Sidoarjo)...kali ini hanya bisa menelan ludah sambil mengelus perut.."yang sabar ya rut"...

==KAMIS 13/12/2018==
Memasuki Banjarjo (Kecamatan paling barat dari prov jatim), ada kemacetan yg maha dahsyat dimana motor sekalipun nyaris tidak bisa lewat, bukan 1 - 2 km, tapi puluhan kilometer, menghabiskan waktu lebih dr 3 jam untuk melewatinya, padahal tidak ada apa2, hanya banyak truk yg parkir dan tiduran. Untungnya selepas pasar Layur (Batas Jatim - Jateng), kemacetan mencair.

Di Rembang, Saya yg tdk memiliki HP untuk mencari info lalulintas, memutuskan utk berhenti makan di arah jalur berlawanan (arah Semarang - SBY), agar bisa mendapat Info dari para sopir yg dari arah Semarang ttg kemacetan dan banjir.

Selesai makan saya langsung melanjutkan perjalanan dan 15 menit kemudian,,,, KOK KOTA REMBANG LAGI ??Emangnya mau balik ke Bali lagi?
Saya baru sadar, ternyata sehabis makan tadi, saya lupa memutar balik ke arah JKT....

Memasuki Semarang, ternyata benar info dari sopir2 truk di Rembang tadi, kalau ternyata banjir sudah surut dipompa keluar dari jalan, kemacetan juga masih wajar karena arus lalulintas dibuang kekiri untuk mengurangi kemacetan, yasudah, sekalian saja saya memutar via Kota Atas, toh sekalipun jauh, tapi saya lolos dari 2 titik kemacetan dan tinggal menghadapi yg satu lagi.

Setibanya di Alas Roban, saya ambil kanan akan via jalur lama, tapi ternyata semua jalur tertutup kendaraan dari arah Jakarta (barat) yang macet total mengular puluhan kilometer, sepertinya ini efek perbaikan jembatan dan jalan diantara Kendal - Semarang, yasudah saya putar balik via jalur baru melingkar saja..."hmm kasihan mereka yg kearah timur"

Selepas Pekalongan, lalulintas lumayan lancar ditengah hujan deras yg tetap setia, hanya ada 3 titik perbaikan jalan di wilayah Jawa Barat saja yang sedikit menghambat.

Hal terberat justru saat melewati rumah makan padang yg memajang gulai tunjang, usus, cincang serta paru favorit saya.

Hal tsb mengingatkan saya akan nostalgia jalan2 jaman SMA & kuliah dahulu kala, dimana saya sering ngeces didepan kaca RM Padang memandangi lauk lauknya tapi tidak punya uang, terpaksa ujung2nya  makan sayur tahu, telor & kerupuk doang di Warteg..😆

Akhirnya jam 23.00 wib, saya tiba di Bekasi Kota (35 jam) dimana biasanya hanya 28-30 jam saja..mungkin karena perut lapar dan mulut asem pingin ngerokok, konsentrasi dan stamina saya jadi jelek, otomatis speed motor selain jadi lambat juga tidak konsisten.

Sampai dirumah saya baru teringat, kalau  saat Touring ke Dilli (timor leste) oktober 2017, saya menyelipkan 5 lembar seratus ribuan yg dibungkus plastik dan dilipat di kotak toolkits motor buat jaga2...dan ternyata masih ada...........tau gitu gw ga harus kelaparan dari Gianyar ke Bekasi tadi @3@####
1 Minggu Touring, hanya ini satu2nya foto yg selamat, karena sempat
dimasukkan archive ke Instastory.
(Motor dibelakang milik biker malang yg bertemu di SPBU Utama Raya
Saat perjalanan berangkat, ketika HP belum hilang).

Salam Rahayu.


=Tambahan beberapa foto & Video dari touring periode 2018 s.d 2020 yang saya ambil secara Random=




Danau Buyan Sisi utara

Danau Buyan Sisi utara

Desa Avabng

Desa Belantih

Desa Catur

Jemeluk. Amed

Jemeluk. Amed

Jemeluk. Amed

Jemeluk. Amed

Jemeluk. Amed

Jembatan Tukad Bangkung

Sunset Uluwatu




Senin, 10 Februari 2020

TOURING, AUTOPILOT & MEDITASI

Ini tulisan pertama saya yang bukan tentang kisah touring, sekalipun masih berhubungan erat dengan touring motor.
Bukan berarti saya sudah mulai bosan touring, sama sekali tidak, hanya saja terhitung sejak maret 2018; saya hanya berkesempatan riding di jalur Bekasi - Bali saja dengan frekuensi mencapai 4 - 6 kali ridng PP setiap tahunnya, dimana setiap touring nya selalu dikejar kejar waktu tanpa bisa menikmatinya sama sekali, sampai saya akhirnya menemukan cara "mindful riding" yang ternyata bisa mengatasi gejala autopilot sekaligus bisa menikmati setiap putaran roda motor.

Di kalangan para penggila touring motor, dikenal istilah "autopilot", yang bisa merujuk kepada tidur mikro ataupun Auto Behavior Syndrome (ABS) saat mengemudi, dimana keduanya berbeda, tetapi sama sama berbahaya.
Berdasarkan pengalaman saya pribadi, autopilot sebenarnya jarang terjadi saat riding di jalur jalur favorit saya, selama waktunya sesuai dengan ritme sirkadian saya, tapi bagaimana kalau di jalur membosankan yang kelewat sering dilewati, di siang hari yang panas (saya nocturnal rider) dan macet ?
Tetap bisa dihindari kok, dengan melakukan mindful riding.

==AUTOPILOT==
Seperti saya tulis diatas, auotpilot terbagi 2 jenis, yang berbasis tidur mikro berulang dan ABS, tapi saya lebih suka menyebutnya dengan istilah saya sendiri :

1) Autopilot Lampu Sein
Saya menyebutnya demikian, karena seperti siklus bangun - tidur - bangun - tidur secara berulang, konstan dan otomatis seperti lampu sein tapi lambat.
1 periode tidur mikro (tidur singkat) biasanya 1 - 4 detik, sedangkan periode bangun 2 - 3X lebih lama dari 1 periode tidur, dimana pada periode bangun, otak menganalisa situasi dan kondisi lalulintas, jalan, ancaman bahaya dll sampai jauh kedepan sebagai persiapan masuk ke periode tidur berikutnya.
*Tentang Tidur Mikro

Bagi yang sudah terbiasa autopilot, Proses bangun dari tidur mikro berlangsung otomatis dengan sangat smooth tanpa ada kekagetan atau hentakan kuat di Kepala samasekali (beda degan teori), itulah sebabnya proses tidur mikronya bisa terjadi berulang ulang sampai tubuh sudah kembali segar seperti habis bangun tidur benaran dan uniknya bisa kita lakukan bahkan sat kita belum lelah atau mengantuk, hanya sebagai cara untuk mengkondisikan stamina.

2) Autopilot 1 watt
Gejala ABS saat mengemudi ini, saya istilahkan; "Auto pilot 1 watt", karena mata biasanya hanya terbuka segaris saja, bahkan terkadang gantian hanya 1 mata saja yang masih terbuka, respon otak sudah lambat, gerakan melambat, reaksi lambat, kontrol kesadaran sudah nyaris tidak ada dan otak benar benar dipaksa agar tidak tertidur benaran.
Mungkin inilah penyebanya, kenapa angka kecelakaan karena ABS jauh lebih tinggi dibanding karena tidur mikro.

Kalau tidur mikro bisa terjadi bahkan saat kita tidak mengantuk, hanya jenuh saja di jalan yang monoton, sebaliknya dengan ABS, hanya terjadi saat kita sudah melewati ambang batas kelelahan, dimana kita mengemudi hanya secara naluriah saja berdasarkan kebiasaan kita mengemudi sebelum sebelumnya dengan pikiran berada di batas antara sadar dan tidak sadar (subconcious mind).

Lupakan teori Freud dkk tentang subconcious mind yg rumit.
Mengemudi dengan subconcious mind, saya ibaratkan kita internetan dengan kondisi signal seluler super kritis, dimana jadinya yang dominan digunakan adalah cache memory dari Hp, nah cache memory inilah ibaratnya fungsi subconcious mind tersebut.

==Kenapa Manusia Bisa Autopilot==
*sebelumnya, lihat tentang gelombang otak terlebih dahulu.
Saya sendiri tidak paham kenapa fenomena ajaib ini bisa terjadi, mungkin karena (secara teori) sebenarnya; pikiran kita hanya 1 bagian saja dimana pikiran sadar (gelombang Gamma & Beta), pikiran bawah sadar (gelombang Alpha & Tetha) dan setengah sadar atau coro londonya: Concious, unconcious dan subconcious mind bekerja secara bersamaan tidak masing masing, hanya saja pada satu momen; sebuah gelombang lebih dominan dari gelombang lainny.
Itulah sebabnya setelah rutin melakukan meditasi, saya bisa mengoptimalkan kekuatan 3 jenis pikiran ini, otak sepertinya ada potensio meternya yang bisa digeser geser sekendak hati kita ataupun dikunci pada gelombang tertentu.
#cmiiw

==MEDITASI==
Mendengar kata "Meditasi", sepertinya sangat menyeramkan & mistis buat saya, apalagi saat pertama belajar, saya dibimbing dan disarankan; agar vibrasi energi (pikiran), diupayakan mencapai batas antara gelombang otak Alpha & Theta atau batas antara sadar & alam bawah sadar agar selaras dan beresonansi dengan gelombang Alam Semesta di 7,83 Hz (Schumann Resonances), dimana Alam Semesta adalah samudra energi (Nicola Tesla) sebagai perwujudan Tuhan itu sendiri.

Ribettt ahh, level keseriusan & spiritualitas saya belum sampai pada tahap setinggi itu.
Untungnya tanpa sengaja; saya menemukan cara & metode meditasi sendiri, tanpa harus selalu duduk bersila, tidak harus mata tertutup, ga perlu mulut komat kamit, ga usah makai sesajen dan ga kudu didalam goa kek jin.😆😆

===MINDFUL RIDING===
Mindful berasal dari kata Mindfulness atau dalam bahasa Indonesia disebut Meditasi kesadaran (meditasi Vipassana).

Mindful riding adalah praktek dari mindfulness saat mengemudi kendaraan yang bisa juga digunakan sambil melakukan beragam aktivitas lainnya, sepertii; berjalan, makan, berlibur, bahkan sampai merampok warung rokok yang tidak mau dihutangin. ðŸ˜†
Inti dari mindfulness, adalah; menyadari dan berkonsentrasi terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa melakukan penilaian kepada realita, sehingga kita tidak lagi memiliki kecemasan atau stress terhadap apapun.
Meditasi Kesadaran

Tahapan tahapan meditasi yang saya lakukan 30 - 60 menit sebelum berangkat touring, juga relatif sama dengan praktek meditasi lainnya, paling bedanya hanya saya tidak selalu dalam posisi Padmasana, Siddhasana atau Sukhasana, kadang hanya duduk biasa di kursi tapi tegak :
1) Melakukan pemanasan dengan latihan pernafasan perut - dada - diafragma - perut (penutup), hanya saja waktunya saya persingkat 1/3 nya saja dari biasanya, jadi cukup10 - 15 menit saja (klo kelamaan kapan turingnya?),
*bagian 1 ini sering saya skip.

2) Tahap ke 2 juga masih meditasi dasar umum yang saya lakukan selama 10 menit, dimana saya hanya berkonsentrasi pada pernafasan saja, dengan posisi tangan membentuk Jnana Mudra sambil menyebut nama Tuhan (bukan nama selingkuhan) berulang-ulang dengan nada rendah bervibrasi tapi panjang, dimana kalau pikiran berkelana, ada audio aneh terdengar, ada vibrasi energi lain mencoba beresonansi, ada visualisasi yang terlintas; saya bagenin bae (abaikan saja) semuanya dan kembali fokus pada jalan nafas saja.
*bagian 2 ini juga sering saya skip.

3) Bagian ini yang mungkin berbeda, tapi jarang saya lewatkan untuk bersantai 10 - 15 menit dahulu, ngopi, mengingat yang mungkin terlupakan untuk dibawa, merokok (jangan nyimenk), mendengarkan 1 atau 2 lagu slow dan easy listening, seperti; Lynyrd Skynyrd - Freebird, Neil Young - Heart Of Stone sambil ikutan nyanyi dengan suara fals (klo saya bilang merdu jelas boong).

Sepertinya bagian ini yang justru menghilangkan kebiasaan saya sebagai pelupa saat touring, karena semenjak saya mempraktekkan mindful riding, saya tidak pernah kehilangan barang apalagi sampai disorientasi waktu dan arah lagi, seperti sebelumnya kalau berangkat dengan terburu-buru.

4) Ambil motor, kemudian nyalakan. tapi klo bagian 1 - 3 tadi di skip, saya harus melakukan pengaturan nafas lagi terlebih dahulu, ninimal 5X sampai menjadi rileks dan bisa merasakan jalan nafas atau denyut nadi, sekalipun motor dalam keadaan hidup (sambil manasin motor).

Lanjutkan dengan berdoa yg bersifat sugesti pribadi kedalam pikiran dengan penuh keyakinan, kalau semuanya akan dilancarkan tanpa hambatan & selamat sampai tujuan.

Alam Semesta tidak paham dengan kata kata yang kita ucapkan, tetapi semua kata kata doa kita tersebut akan membentuk vibrasi energi positif tertentu didalam pikiran kita, kemudian akan terpancar ke segala arah dan beresonansi dengan frekuensi yang identik dari Alam Semesta, dimana kita akan mendapat feedback positif yang sama sesuai dengan gelombang dari pikiran yang kita pancarkan tersebut.
Sebaliknya klo gelombang pikiran kita memancarkan kecemasan dan yang jelek jelek, maka Semesta akan merespon dan mewujudkan kecemasan kita tersebut ðŸ˜¥.


5) Bagian ini masuk kepada inti mindful riding, yang sudah banyak tutorialnya di youtube, ini salah satu contohnya (klo ditulis detail kepanjangan), intinya masuk kepada menyadari, menandai, mengamati, menghayati serta merasakan; suara mesin, sikon lalulintas beserta jalan, desiran angin, tarikan gas di pergelangan tangan, jalan nafas kita, bagian2 tubuh dll yg sebelumnya terbiasa kita lakukan dgn cara otomatis, tidak acuh, kurang menyadari, kurang menghayati apa yang kita sedang lakukan.
Bagian ini terkesan ribet, tp sebenarnya jauh lebih sederhana dari 3 bagian sebelumnya (kecuali no 3).


Kesadaran, kewaspadaan dan kepekaan akan situasi - kondisi sekitar (termasuk lalulintas) akan meningkat drastis tapi otak sangat rileks secara konstan, nyaris seperti sedang beristirahat.
Pikiran bisa segera bergeser dari relaksasi ke posisi siaga penuh ketika ada bahaya yang mendadak datang, bereaksi menghindar dgn cepat dan tepat secara tenang tanpa panik.
Pikiran juga akan langsung kembali lagi ke posisi relaksasi ketika bahaya terlewati, tanpa ada rasa deg2 an atau kecemasan sama sekali.

Manfaat utama dari mindful riding ini; stamina dan pikiran jadi tidak terkuras, macet sekalipun akan tetap terasa enjoy, itulah sebabnya, saya jadi tidak mudah kelelahan, bosan dan mengantuk sekalipun harus 35 jam riding tanpa bed rest.

==MEDITASI UNTUK PEMULIHAN==
Meditasi yang ini sulit dilakukan di SPBU saat break, karena akan menarik perhatian dan membuat saya terlihat dungu, apalagi idealnya saya harus melakukan Simhasana Pranayama atau bahkan  Shirshasana (klo pusing juga) yang gerakannya aneh,selain itu, dari pengalaman pribadi; beresiko gagal yang niatnya meditasi 15 menit sebelum lanjut gaspol lagi, malah saya pernah 2X bablas tertidur pulas 8 jan tanpa bermimpi di SPBU.


Jadinya yang saya lakukan hanya relaksasi biasa, posisi rebahan atau duduk bersandar rmenggunakan sleeping bag + tas + Jaket sebagai bantal (buat posisi senyaman & serileks mungkin), telapak tangan menghadap keatas, atur pernafasan (tidak perlu ditahan) dilanjutkan menyanyi lagu2 tertentu yang penuh kenangan indah, membayangkan liburan indah, sampai otak kita berada diambang batas sadar - bawah sadar.
(Kalau diatas itu malah bikin pusing).
Setelah itu masuk kebagian sugesti (kembangkan khayalan sendiri) yang setiap orang berbeda beda tapi intinya kita seolah olah mendapatkan anugrah kekuatan dari Tuhan Alam Semesta yang diterima oleh telapak tangan kita yang terbuka tersebut.
Cara ini efektif juga buat saya, seolah-olah energi positif Semesta masuk ke Pikiran saya, sehingga tubuh dan pikiran kembali segar seperti habis dicharge. 
Saya sering memvisualisasikan tempat ini dipikiran,
sambil mengingatn saat saya berada tepat dibawah air terjun tsb
Ohh iya...sebagai penutup; Gangguan Metafisik saat meditasi itu wajar, karena kita akan segelombang dgn apa yg kita yakini & ingat, baik dipikiran sadar atau bawah sadar.
Jadi klo lu sering nongton acara tipi nyang onoh; yg akan muncul ya wujud... upss ðŸ˜†ðŸ˜†

Senin, 04 Desember 2017

Jelajah Sunda Kecil & Lorosae, Bagian 6 (Timor barat)

Bagian tentang Pulau Timor, saya pecah menjadi 3 bagian, yaitu :
- Bagian 6, Timor Barat  (NKRI) saat berangkat.
- Bagian 7, Timor Timur (Timor Leste) PP.
- Bagian 8, Timor Barat (NKRI) saat balik.


Selasa 3 Oktober 2017
Sekitar jam 03.30 wita saya terbangun, kali ini sudah tidak terasa lagi goyangan kapal, hanya dari suara mesinnya terdengar dalam RPM tinggi, saya langsung melihat keluar, ternyata kapal sedang melaju dengan sangat cepat tapi tenang karena sudah tidak menghadapi gelombang laut lepas lagi, terlihat di kanan kapal sudah ada semacam Pulau (Tanjung), sedangkan dikiri kapal ada pulau besar yang saya duga adalah P Timor.
Beginilah posisi
 P Timor dan titik A
Adalah pelabuhan
Bolok, tujuan Kapal.

Lega dan bahagia sekali saya saat itu dengan perasaan campur aduk, saya spontan berteriak : "Terima Kasih banyak Kapten Donald dan para ABK sudah membawa kami dengan selamat melewati ganasnya laut Sawu".

Untuk memastikan, saya melihat GPS dan ternyata benar, Pelabuhan Bolok, Kupang kurang dari 1 jam pelayaran lagi, tanpa sadar, saya langsung bernyanyi sambil berjoged dengan memegang botol aqua kosong (pura2 nya sih microphone) :
Tanjung Kurung
Pulau Sera dan Hansisi
pasir Panjang kelapa Lima dan Teno
Kapal kapal dan parahu pun berlayar
Masuk Kupang, Lasiana masise
Kapan tempo beta lia lae

Itu lagu rakyat Kupang dan untungnya saya segera tersadar, ternyata semua mata yang ada disitu (mata2 baru bangun) tersenyum senyum melihat saya.

Merekapun berbondong bondong melihat keluar dan saya yang sudah akrab dengan mayoritas dari mereka, kembali berteriak : Bae Sonde Bae Tanah Timor dan Bali Lebe Bae" hahaha

Sekitar Jam 04.15 wita, KMP Ile mandiri sudah siap merapat di Pelabuhan Bolok: 

Setelah perjalanan yang sangat panjang dari Jakarta, 5X menyebrangi laut (total 30 jam ngapung), berhari hari menempuh perjalanan darat, menembus kabut, hujan, badai, panas, dingin dll; Akhirnya... Andini pun untuk pertama kalinya menjejakkan rodanya di Tanah Timor, bahagia sekali rasanya saat itu.

12 X Penyebrangan :
Dalam touring kali ini, total saya melakukan 12X penyebrangan (PP) dengan total waktu 68 jam, yaitu:
1) Jawa - Bali @ 0,5 jam pelayaran X 2
2) Bali - Lombok  @ 5 jam pelayaran X 2 
3) Lombok - Sumbawa @1,5 jam pelayaran X 2
4) Sumbawa - Flores @ 7 jam pelayaran X 2
5) Flores - Timor @16 jam pelayaran X 2
6) Timor - Rote @ 4 jam pelayaran X 2
Semua dikali 2 (PP) jadi total 68 jam.

Kembali ke Ceritra:
Saya sengaja tidak langsung melanjutkan perjalanan ke Atambua sejauh kira kira 310 km dengan waktu tempuh sekitar 10 jam.

Saya yang baru akan pertama kalinya riding  di tanah Timor ini, berniat mengumpulkan semua informasi yang saya butuhkan untuk bekal diperjalanan nanti, seperti SPBU, Kondisi jalan, obyek wisata dll.

Andini Saya arahkan menuju sebuah warung untuk memesan kopi dan roti terlebih dahulu :



Hari mulai terang dan saya masih santai di Pelabuhan sambil berusaha menghilangkan efek 16 jam goyangan diatas kapal ferry tadi.



Beruntung bagi saya, ternyata ada 2 orang mahasiswa dan seorang Dosen yang hendak menunggu kapal ke Rote (jadwalnya setiap hari jam 07.00 wita) yang sangat ramah dan memberikan banyak informasi, yang mana sang dosen tersebut ternyata juga suka traveling dan seorang mahasiswa tersebut bahkan pernah menjadi asisten kameramen  sebuah acara trip di Pulau Rote.

Mereka mengajak saya untuk berkunjung Ke Rote hari kamis depan, dimana hari ini adalah hari Selasa dan jadwal ferry kembali ke Larantuka adanya setiap Minggu dan kamis, tapi saya berencana kembali hari minggu saja, toh 5 hari 8 jam saya pikir cukup (ternyata kurang).

*Sayangnya, nanti saya terlambat kembali ke Kupang dan akhirnya hanya punya waktu sehari PP ke pulau Rote, dimana saya berangkat ke dan balik dari Rote dihari yg sama dengan kapal yang sama, sehingga tidak sempat explore dan hanya bisa memberikan kesempatan kepada ban Andini untuk sekedar memutar bannya sedikit di Pulau paling selatan dari NKRI tersebut (sebenarnya P paling selatan adalah Pulau Ndana, tp tidak bisa bawa motor).


Jam 06.00 wita, saya mulai menarik lembut gas Andini menuju ke Atambua dan setelah mengisi full tangki Andini, saya tiba di Kota Kupang sekitar jam 06.30 wita, disaat sudah mulai ramai.

Sambil tengak tengok, saya menjalankan Andini dengan sangat pelan  membelah kepadatan laulintas pagi hari di ibukota provensi NTT ini yang sebenarnya banyak memiliki pantai pantai indah, diantaranya yang saya sebutkan dalam lagu tadi, adalah Pantai lasiana, tapi fokus saya tidak explore disaat perjalanan berangkat ini, saya ingin mencapai titik terjauh secepat mungkin, yaitu; Kota Dilli, Timor Leste atau setidaknya Kota Atambua untuk hari ini.

Selepas Kota Kupang, jalan mulai lancar, saya spontan memacu Andini dengan cukup cepat melewati Kabupaten Kupang tanpa terasa (di Kupang ada Kota Kupang dan kabupaten Kupang), ternyata saya sudah masuk Kabupaten Timor Tengah Selatan saja (TTS).

mungkin karena saya sangat menikmati moment pertama kali riding di Tanah Timor ini, sejenak rasa lapar terlupakan, saya yg sudah berniat mencari sarapan nasi dahulu, baru berhenti pada sebuah warung untuk sarapan, jam 08.29 wita  pada koordinat : 9°58'33.0"S 124°04'51.3"E. (tercatat di HP).

Artinya saya sudah berada pada Kecamatan Batu Putih, Kabupaten TTS atau sudah berjalan 88 km (menurut Gmap) sejak dari Pelabuhan Bolok.

Sayangnya di Warung ini tidak ada nasi, saya hanya ngopi dan ngemil roti, tapi ternyata: view dipinggir jalannya sangat unik, seperti terlihat pada foto2 dibawah:



Saya kembali melanjutkan perjalanan dan di pasar SoE (baca So'E), banyak pedagang makanan didepannya, saya langsung parkir dan saat bertanya harga makanan; saya sedikit kaget dengan harganya, dimana nasi bungkus dengan telur hanya Rp 5.000, hmmmm, kalau di Flores minimal Rp 12.000 ini, belum lagi harga goreng gorengan juga terbilang murah.

SoE Ini merupakan Ibukota dari Kabupaten Timor Tengah Selatan dan daerah penghasil jeruk ini, dijuluki The Freezing City karena udaranya jauh lebih dingin dibanding tempat lain di P Timor yang terkenal panas.

Baru saja melanjutkan perjalanan dari Pasar SoE, saya melihat plang air terjun Oehala sejauh 7 km, ternyata inilah air terjun yg tadi disarankan oleh dosen asal Rote, untuk saya kunjungi.

Saya langsung menuju air terjun, tetapi saat sudah tiba di parkiran, seperti ada suara (bukan halusinasi akustik loh) yang meminta saya untuk kembali meneruskan perjalanan : "Pang (nama panggilan saya), Ayuh fokus ridingnya dulu, capai titik terjauh dulu, demi prinsip ride for passion and pride, nanti pulangnya baru explore sepuasnya, kalau perlu1 bulan lu disini biar ampe bosen".

Yasudah, saya melanjutkan saja perjalanan saya dan sampai disebuah tempat yang saya tidak tahu dimana, tapi kemungkinan masih di Kabupaten Timor Tengah selatan dan sudah melewati Kota Soe (tercatat di HP baru jam 09.29 wita).
Anehnya, catatan posisi (koordinat) pada foto ke 2 yg saya ambil dengan HP tidak aktif :




Masih di tempat yang sama tapi tanpa terhalang motor:



Kali ini saya sudah memasuki Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sayangnya kamera sempat reset, selain jadi tidak ada catatan jam, settingan juga berubah, sehingga hanya 1 foto ini saja yang tidak blur:


Tercatat Jam 12.10 wita saat sedang panas panasnya, saya tiba di Kota KefaMefanu yang merupakan Ibukota dari kabupaten  TTU, disini saya masuk kesebuah warung milik orang Jawa Timur untuk minuman dingin, tapi mendadak timbul keinginan untuk sekalian makan nasi soto.

Kembali saya kaget saking murahnya harga di Timor Barat ini, dimana nasi soto dan es jeruk hanya Rp 12.000 saja, hal yang bertolak belakang dengan pulau Flores ini dimungkinkan setidaknya karena 2 hal menurut saya:
1) Jalur distribusi darat di Timor barat sangat lancar, dimana truk bisa dengan mudah masuk, karena jalurnya tidak curam serta berliku, mirip2 dengan jalur lintas Sumbawa lah, hanya jalur Kupang - Kefa ini sedikit bergelombang, sekalipun tidak separah jalur lintas Sumatra gelombang jalurnya.
2) Kota Kupang merupakan pelabuhan ke 2 terbesar di Indonesia tengah (setelah Makasar) dimana banyak disinggahi oleh kapal kapal besar, sehingga distribusi via laut pun lancar.

disini saya sempat berbincang bincang dengan seorang polisi yang mengatakan kalau Pos Lintas Batas Indonesia - Timor Leste itu di Motaain, sekitar 1 jam dari Atambua (ternyata saya hanya butuh 30 menit saja dari Atambua ke Motaain @ 25 Km), jadi saya sebaiknya menginap di Atambua saja, karena prediksi dia saya akan kemalaman masuk Dilli nya kalau menyebrang perbatasan negara hari ini.

Selepas Kota Kefa, saya mendadak bingung, karena plang petunjuk arah ke Atambua malah belok kekanan ke jalan yang jauh lebih kecil, sedangkan jalan utama yang sangat lebar ini malah menuju tempat lain yg belakangan baru saya tahu, ternyata menuju PLBN Wini.

*Dibagian 8 blog ini (Timor barat perjalanan pulang), nanti saya berkesempatan melihat pembangunan jalur Sabuk Merah perbatasan" sektor 2 (tengah) di wilayah TTU ini, dimana ada kantung wilayah milik Timor Leste (distrik Oecusse atau Oekusi) di wilayah NTT.

Jalur tersebut dimulai dari titik Amol - Oehose - Manufano -PLBN Wini.
Kalau sektor 1 (timur) sudah selesai, maka sepertinya tidak lama lagi, sektor 2 ini juga akan selesai.

Sayangnya sektor 3 (barat) di Kabupaten kupang tidak sempat saya kunjungi.

Lihat pada peta dibawah, dimana ada kantung Timor Leste diwilayah kita dan jalur sabuk merah perbatasan sektor 2 :


Setelah bertanya ke beberapa orang, akhirnya dengan yakin saya belok kekanan yang ternyata adalah benar jalan tercepat untuk ke Atambua.

Pulau Timor ini cukup besar dan idealnya butuh 2 minggu untuk explore nya kalau mau puas, apalagi di Pulau ini ada 2 negara, semoga suatu hari saya punya kesempatan untuk lama tinggal disini, yahh minimal 2 bulan tugas disini lah hehehe.

Memasuki Jalur KefaMefanu - Atambua, ternyata jalur ini sangat kosong, sepi, kecil tapi sangat mulus tidak bergelombang seperti jalan utama tadi, hanya saja kanan - kirinya sangat gersang.


Kembali melanjutkan perjalanan dan kembali mengambil foto:



Benar benar hampir tidak ada kendaraan yang lewat saat itu dan saya sempat memfoto sebuah bukit yang agak subur:

Diluar Dugaan, Jam 14.15 wita, saya sudah memasuki Bypass Kota Atambua, padahal sejak dari Pelabuhan Bolok, Kupang Barat, semua orang yang saya tanya memprediksi kalau saya akan tiba di Atambua sekitar jam 18.00 wita :



Memasuki gerbang Kota Atambua, saya bablas, tapi saya sempat ambil foto saat perjalanan balik, dimana saat itu saya kebetulan sambil melepas mantel hujan:


PLBN (Pos Lintas Batas Negara) :
Kebanyakan orang Indonesia beranggapan bahwa;  perbatasan utama NKRI - RDTL (Timor Leste), berada di Atambua, padahal sebenarnya, PLBN utama NKRI  - RDTL berada di Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, sedangkan Atambua hanya Ibukota Kabupaten Belu saja.

Selain Motaain ada 2 PLBN lainnya, yaitu:

- PLBN Wini di Timor Tengah Utara
- PLBN Motamasin di Kabupaten Malaka.

memasuki Kota Atambua, entah kenapa saya mendadak lemas, ngantuk & pusing, sehingga langsung saja saya mencari penginapan rekomendasi dari rekan2 backpackers, yaitu hotel Matahari, Atambua.

Ternyata harganya terlalu mahal buat saya, kalau rekan2  backpackers kan tripnya kroyokan kek anak STM mau tawuran, jelas bisa sharing cost, lahh sayah, single fighter kek Rambo..tekorrrr

Akhirnya trick standar saya lah yang saya gunakan, yaitu: cari pusat keramaian, seperti; pasar, kemudian nongkrong sambil ngopi dan ngorek info hehehe.

Ternyata ada 2 hotel yang paling murah di Atambua dan yang paling di rekomendasikan oleh mereka adalah Hotel Paradiso (lihat Peta).

Saya lupa, ada berapa harga di Hotel Paradiso ini, tapi saya mengambil yang Rp 130.000 / hari dan Receptionist nya seorang wanita paruh baya asal Malang - Jawa Timur menawarkan pijat (bebas mau plus2 atau minus2) oleh seorang Teteh Bandung.
Saya jawab dengan bercanda :"Saya kan tinggal di Jawa (Jakarta) dari lahir, jadi buat apa mencari Teteh, Mbak atau Mpok disini setelah riding ribuan kilomer? kalau dengan Nona baru tertarik" sambil saya ngeloyor pergi.

Jam 19.30 wita, saya keluar makan ke sebuah warung yg tidak jauh dari penginapan dan bertemu 4 wisatawan asal Jakarta, yang tadi tiba di penginapan sekitar maghrib dengan travel L300 dari kupang,  tapi kami tidak banyak berbicara karena mereka sibuk dengan HP nya masing2, bahkan diantara mereka saja sedikit sekali saling berbicara.

Hanya saya sempat menjawab klo saya tidak paham rental rentil motor di kota Atambua ini, saat mereka bertanya tentang rental motor, dikarenakan saya membawa motor sendiri dari Jakarta dengan cara riding all the way...."keren kan??? Haha".

Kembali ke penginapan, saya berjalan kaki beriringan dengan mereka yg konon sudah dapat rental motor untuk besok, tiba2 kami bertemu sekelompok pemuda lokal  sedang gitaran yang mengajak kami utk bergabung. Wah kesempatan untuk ngulik info nih (pikir saya).

Saya ikut bergabung, tapi 4 wisatawan tersebut dengan alasan kelelahan setelah 10 jam duduk manis ala maho & mahi di L300 ber AC hendak langsung tidur. Harusnya kan gw yg jauh lebih lelah...

Disinilah keberuntungan saya, yang akhirnya tahu dari para warga lokal tersebut (ada 2 orang yg  bertugas di PLBN), kalau Posisi Motaain yg di GMap sejauh 78 km di selatan Atambua adalah salah (itu sih Motamasin), yang benar hanya sekitar 25 Km ke utara (bukan selatan).

Saya juga diberi tahu tentang prosedur resmi (ilegal juga), cara membawa motor ke Timor Leste.

Hal2 tsb sangat membantu saya besoknya, tapi tunggu ceritra kocak bin dodol dari 4 wisatawan jakarta tersebut..hehehe.



Rabu 4 Oktober 2017
Bangun pagi ini, saya tidak ingin tergesa gesa berangkat ke PLBN Motaain, biarlah 4 backpackers asal Jakarta yang jalan lebih dulu dan saya memilih bersantai di Penginapan, kan kalau di pilem pilem, jagoan selalu munculnya belakangan.

Jam 09.30 saya baru start ke arah Motaain dan ternyata, membingungkan juga keluar dari Kota Atambua ini karena jalannya banyak persimpangan, tapi tidak ada plang petunjuk arah, untungnya saya ingat pesan orang2 yang semalam nongkrong bareng agar saya bertanya arah ke Bandara.


Tiba di Bandara, saya sempatkan Foto2 sebentar di bandara yang terlihat sedang berbenah ini, tapi karena saat berangkat saya mengambil foto hanya dengan kamera HP, maka yang saya upload dibawah justru foto2 yang saya ambil saat perjalanan pulang :





Selepas Bandara, saya dibuat terkesima oleh hebatnya jalur menuju Motaain, proyeknya "Pak De" yang disebut : Jalur "Sabuk merah perbatasan" sektor 1 (wilayah timur) yang sudah selesai bulan Agustus lalu (Agustus 2017) sepanjang 162,13 Km, membentang dari Motaain di pesisir utara sampai Motamasin di pesisir selatan.


Meyusul akan segera selesai sabuk merah perbatasan sektor 2 (tengah) di wilayah TTU dan sektor 3 (barat) diwilayah kabupaten Kupang.





Terlihat pemandangan sangat memalukan pada foto ke 2, dimana ada pengemudi motor, entah orang Indonesia atau orang Timor Leste menggunakan motor tanpa Plat Nomer yang artinya tidak membayar pajak.

Tidak tahu malu manusia2 seperti ini, dimana negara sudah bersusah payah memberikan fasilitas buat anda, tapi anda tidak memberikan konstribusi balik dengan membayar pajak.


Tiba di Motaain saya foto terlebih dahulu :

Ohh iya, selentingan yang saya dengar, di tempat ini sedang dibangun pusat wisata dan belanja (sudah mulai terlihat sih), dimana saat ini saja pelintas batas dari Timor Leste, sudah rutin belanja ke wilayah Indonesia, dikarenakan harga2nya jauuuuhhhh lebih murah dari di Timor Leste yang menggunakan mata uang Dollar Amerika.

Hal tersebut sangat terbantu oleh  Perpres no 21 tahun 2016 tentang bebas visa kunjungan wisata dibawah 30 hari,dimana belum satu tahun berlaku (berlaku sejak 10/3/2016), devisa Indonesia dari sektor pariwisata tahun 2016, tembus 184 T (melampaui target 172 T), saya tidak tahu berapa devisa tahun 2017, tapi sepertinya kalaupun naik hanya sedikit, mengingat triwulan akhir 2017 dimana kunjungan wisatawan asing seharusnya sedang tinggi2 nya, pariwisata Indonesia sedikit goyang akibat Gunung Agung, Bali yang lagi Flu.


Sayangnya 1/2 nya hanya disumbangkan oleh Provensi Bali saja, disusul DKI 25 % dan Kepulauan Riau 15 %, Sedangkan 31 provensi lain menyumbang 10%.

Kalau saja sudah agak merata, tak terbayangkan kuatnya ekonomi negara kita.

Kembali ke Ceritra:
Melihat plang diatas dimana Pantai Atapupu hanya 3 Km saja, maka saya putuskan mampir dahulu, sebelum menyebrang ke Timor leste.
Ternyata jalan Bypass membelah bukit menuju Atapupu inipun, sudah 85% selesai.

Jalan ini memang tidak termasuk jalur sabuk merah perbatasan sektor 1, 2 dan 3 tapi jalur via pesisir utara ini akan bisa menjadi jalan pintas yang menghubungkan PLBN .Motaain dan PLBN Wini.

Tiba di Pantai Atapupu, tercatat jam 10.15 wita, dan pantai ini sangat sepi, bahkan gratis tidak ada loket tiketnya.




 Kebiasaan saya setiap di Pantai adalah mengintip trumbu karangnya, dan ternyata pantai ini punya trumbu karang yang sangat baik.







Tidak jauh dari pantai Atapupu ini, juga ada Pelabuhan Atapupu yang merupakan pelabuhan vital bagi Timor Leste, karena hampir semua pasokan kebutuhan mereka dari Indonesia dan masuk via pelabuhan Atapupu ini (mereka tidak punya pabrik dan tidak mampu bercocok tanam).

Seharusnya kita bisa lebih menarik keuntungan dari posisi pelabuhan yang berada di perbatasan ini untuk menarik wisatawan dari Timor Leste, kususnya ekspatriat asal Tiongkok dan Australia yang banyak di Timor Leste, untuk berkunjung ke tempat2 lain di NTT.


Contohnya ke P Alor yang secara posisi dekat (tepat di utara) Atapupu ini, sayangnya Sejak 2014, Kapal Ferry RoRo Atapupu - Kalabahi sudah tidak beroperasi lagi dan hanya tinggal kapal Perintis KM Nangalala.



Setelah Puas di Pantai ini, saya langsung bergerak menuju PLBN, Motaain dan saya speechless melihat Pos perbatasan NKRI yang baru saja di resmikan oleh Pak De ini.
Kalau dulu orang Timor Leste menghina Pos Perbatasan kita, sekarang banyak orang Timor Leste yang justru selfie disini, bahkan saya sempat dimintai tolong memfoto 2 orang biarawati yang sepertinya asal Portugal.

Luar Biasa Pak De Joko ini (saya bukan simpatisan beliau dan malah cenderung anti politik), tapi saya harus mengangkat 2 jempol saya untuk beliau sejak tadi selepas kota Atambua melihat dengan mata kepala sendiri, merasakan hasil2 pembangunannya, menganalisa ide2 briliant dan perhatiannya terhadap pelosok Indonesia., mengetahui kesamaan harga dengan di Jawa, bukan saja harga BBM, tapi juga harga makanan dan kebutuhan lain.


Saya jadi teringat ucapan seorang bapak 60 tahunan tadi di Atapupu, kalau akhirnya pelosok NTT merasakan memiliki seorang Presiden dan bukan Gubernur Jendral negara penjajah, seperti si anu dan si nganu (emang jaman Belanda hehehe).


Kalau boleh memberi saran : Ruang imigrasi kita terlihat bagus & modern, tapi akan lebih unik kalau dibeli sentuhan tradisional khas NTT :





Foto ini saya ambil keesokan harinya dalam perjalanan Kembali masuk ke wilayah NKRI, cantik sekali, ini yang saya maksud ada sentuhan tradisional NTT nya.




Sebenarnya kita bisa masuk ke wilayah Timor Leste bahkan tanpa passport sampai Desa Batu Gade (desa pertama), tapi itu hanya berlaku untuk warga lokal dengan kendaraan lokal, bahkan polri pun akan ketat mengawasi, karena banyak sekali kendaraan curian di wilayah NKRI diselundupkan ke Timor Leste

Cara ke 2 adalah dengan dikawal petugas TNI / Polri, bisa masuk juga sampai benteng di Batu Gade, tapi itu tanpa kendaraan kita dan harus menggunakan kendaraan petugas.

Sehubungan bawa kendaraan ke Timor Leste, tidak memerlukan carnet de passage (CPD), maka saya putuskan masuk saja secara remi, biar bisa sampai Kota Dilli, sekalian Menengok sejarah keberadaan Indonesia di Lorosae.

Berikut Prosedur Resminyanya :
1) Parkir motor di wilayah NKRI, jangan coba coba menyebrang sebelum dokumen beres
2) Masuk ke Imigrasi seperti ke Luar negeri biasa, tunjukkan Passport dan nanti di stempel
3) Bayar Visa On Arrival 30 USD (mereka tidak memberlakukan bebas visa wisata seperti Indonesia). Makanya yang masuk ke Indonesia dan membelanjakan uangnya ratusan / hari, yang masuk ke mereka satu dua saja / hari, tambah miskin dah mereka hahaha
5) Ke Bea Cukai urus Dokumen kendaraan (jangan lupa bawa pas foto, ktp, stnk berikut foto copy nya.
6) Nanti dapat dokumen rangkap 4 dari Bea Cukai: 1 buat arsip, satu buat nanti diserahkan ke pihak Timor Leste, 1 kita pegang dan 1 lagi buat ngurus ke Polri
7) Urus dokumen perjalanan dari Polri dan titipkan STNK ke pihak Polri dan diambil setelah kita kembali ke wilayah NKRI. (nanti dapet stiker)
8) Masuk Pelan2 ke wilayah Timor Leste serahkan dokumen dari Bea Cukai dan tunjukkan Dokumen dari Polri.

Sebelum masuk, seorang Anggota Polri menyarankan saya, agar mengisi full tangki motor beserta orangnya di wilayah NKRI, bawa rokok, Aqua, Indomie dll, karena di Timor Leste harga2 sangat mahal, apalagi mereka menggunakan mata uang Dollar Amerika.

Saya turuti pesannya tersebut, tapi mengenai bensin yang di mereka seharga sekitar US$ 1,5 / Liter tidak berpengaruh buat saya, toh jarak PP dari SPBU di Atambua tadi ke Dilli hanya 300 Km saja, masih cukuplah bensin di Tangki Andini, kalaupun harus nambah paling hanya 1 - 2 liter saja (3 USD), ga ngaruhlah..


Btw lu orang masih frotes afa afa mahal? Samfe cabe segala lu urusin, padahal beli sendiri aja lu ga  pernah, jangan macam monyet didalam temfurung lu..sini fiknik kesini, inget ya: sendirian..liat sendiri make mata lu sendiri.

Lupa nama jembatan in
Sebenernya males banget ngupload 2 Poto ini, tapi buat perbandingan aja deh, bagusan mana pos perbatasan kita dan mereka :


Ini lupa dimana, tapi sepertinya sudah wilayah mereka....hmmm nyesek inget referendum dulu, Negara kita sudah buang2 banyak uang, tapiiiii ........:




Hampir lupa ceritra tentang 4 wisatawan asal jakarta, yang ternyata nyasar ke Motamasin karena mengikuti Gmap, saat mereka hendak mampir ke Fulan Fehan di kabupaten Malaka, mental mereka down melihat jalurnya dan kembali turun, sayangnya mereka tidak keburu balik ke arah Motaain, karena harus kembali ke kupang dengan menggunakan travel setelah sebelumnya harus memulangkan motor rental mereka terlebih dahulu.

Makanya, bergaul, bersosislisasi sama manusia lain kek warga lokal, jangan autis maen hape mulu...jangan percaya mentah2 sama gadget, karena GPS terbaik adalah warga lokal hahaha.

Catatan Pribadi :
Tujuan utama touring saya kali ini, adalah; melihat langsung pembangunan di pelosok pelosok perbatasan NKRI dan hasilnya,; saya sangat mengapresiasi langkah2 yg diambil oleh pemerintahan saat ini.

Mengutip ucapan Bupati Belu di surat kabar: "warga perbatasan menjadi lebih percaya diri, karena pembangunan tsb membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang hebat".
Begitupun dengan saya sebagai "Malae bulak" dari Indonesia, saya menjadi begitu bangga dan penuh percaya diri, saat bertamu kerumah tetangga.

Dengan bangga saya akan menjawab saat ditanya tetangga nanti : "ha'u nia naran Revandhiya, ha' u hosi INDONESIA HEBAT".



Peta Explore Timor komplit (1.212 Km)


Rincian pengeluaran bagian 6
1) Makan, minum, rokok, jajan & bekal     = Rp 150.000
2) Penginapan :
     - Atambua                                          = Rp  130.000
     
3) Bensin (Pertalite) :
     -  Kupang =                                         = Rp  40.000 (5.33 L)
     -  Atambua =                                       = Rp  60.000 (8 L)
      
4) Visa On Arrival = 30 USD                       = Rp  400.000

------------------------------------------------------------------------------------------------- +
Total pengeluaran bagian 5                         = Rp 780.000